[PROLOUGE] Bleu Mariage

cover

AUTHOR     : AISHITA KIM

GENRE        : Romance, Angst

LEGTH         : CHAPTERED

MAIN CAST :

  • Cherie Blanc
  • Kwon Jiyong
  • Song Boram
  • Jonatthan Song / Song Seung Hyun FT island

Other Cast :

  • Jean (OC)

RATING                  : PG 17

DISCLAIMER        : Original story by Aishita Kim, feel free to blame this one Please rcl ^^ gomawo ^^

=========================================================================

Pernikahan sama dengan end of freedom, kalau tanpa menikah kita dapat hidup bersama, lalu kenapa harus terikat?

=Cherie Blanc, married antis=

Usiaku sudah kepala empat tahun ini, kedua orangtuaku terus mendesakku, tapi Cher tidak suka menikah, ia lebih memilih samen leven, menurutnya pernikahan itu mengikat. Ya Tuhan, apa yang dapat kulakukan? Ini dilemma antara bakti kepada orang tua dan cinta”

=Kwon Jiyong, Married Hoper=

Pernikahan itu impian, kau kan menjadi yang tercantik hari itu dengan gaun putih super mewah yang dirancang hanya untukmu. Eksintensimu sebagai wanita sempurna akan semakin sempurna ketika kau mengucap janji sucimu di depan altar. Aku sudah menemukan separuh jiwaku itu, meskipun usia kami terpaut jauh, aku rasa Jonatthan paling sempurna untuk hidupku. Lalu bagaimana dengan dirimu? Sudahkah kau menemukan belahan jiwamu itu?

=Song Boram, Married dreamer=

Aigooo.. apa in benar aku? Aku masih 28 tahun, tapi pagi ini sudah sibuk mengepas tuxedo putih untuk pernikahanku. Aku masih terlalu muda untuk terikat. Sementara Boram, calon istriku sangat menginginkan pernikahan ini. Sebenarnya pernikahan itu untuk apa sih?

=Jonnatthan Song, Married Confuser=

=========================================================================

[Jiyong POV]

“Cher.. kita harus ke Korea sekarang, orang tuaku benar – benar ingin bertemu denganmu, kita sudah lima tahun hidup satu atap, tapi tak sekalipun kau mau bahkan berniat menemui mereka saja tidak?”

“matahari baru saja naik sepenggalah kau sudah memancing perdebatan, ji.. aku sudah mengatakan berkali – kali, kita tidak akan berakhir di altar”

“tidak bisakah kau mengubah presepsimu itu? Aku akan membiarkanmu berkarier sebebas kau mau, aku tidak akan membatasimu seperti biasanya”

“tidak, kau sudah tahu konsekuensi hubungan kita, tidak ada pernikahan, anak dan..”

“perkenalan dengan keluarga masing – masing” selaku cepat.

“bagus kalau kau sudah mengerti, Dear.. ah.. sudahlah, aku harus berangkat sekarang, banyak desain yang harus aku selesaikan hari ini, terima kasih sarapannya, saranghae.. oh iya, kau perlu botox lagi Dear, ada kerutan di pipimu. sebaiknya kau lupakan tentang pernikahan, setiap kau memikirkannya kerutan di wajahmu bertambah, dan aku tidak suka itu”

Cher mengecup bibirku singkat, kemudian melenggang santai dengan kunci ford escapenya. Dia selalu melakukan ini, membiarkanku mematung memikirkan ucapanku sendiri.

Setiap pagi.

Kuhela nafas berat.

Aku juga mulai beranjak menuju Hammerku. Setelah duduk nyaman dibelakang kemudi, Kupacu lebih cepat dari biasanya. Aku sudah terlambat tiga puluh menit. Pekerjaan lapangan lebih membutuhkan perhatianku daripada berdebat dengan Cher soal status kami.

Jujur saja, Kehidupan seperti ini tidak pernah aku inginkan terjadi dalam garis nasibku. Aku ini masih orang timur yang selalu menjunjung tinggi pernikahan daripada sekedar berbagi ranjang, dengan perempuan yang ingin sekali aku naikkan statusnya menjadi istriku itu.

Pemikiran konvesional tentang kelahiran anak dan keharmonisan rumah tangga di bawah payung hukum, membuatku menjadi lebih tenang. Setidaknya aku bebas memberikan marga Kwon dibelakang nama anak – anakku nanti. Haaaahh… betapa hidupku akan sangat sempurna dengan kehadiran beberapa tawa menggemaskan itu.

Tapi sayangnya, aku jatuh cinta dan menghamba pada wanita pembenci komitmen bernama pernikahan. Baginya, jika bisa hidup bersama tanpa pernikahan, buat apa repot – repot mengurusi legalitas seperti itu. Dan aku terlanjur terikat dengan pesonanya. Aku terseret arus pemikirannya, hingga mau hidup bersama tanpa ikatan.

Aku pendosa.

Memang,

tapi ini juga pilihan. Aku memilih Cher dalam hidupku juga berdasar kriteria tertentu. Bukan cinta buta ala remaja. Dia sempurna dengan segala kekurangannya. Aku yakin kedua orang tuaku juga akan menjadikan dia menantu kebanggaan mereka. Sudah pintar, Cher juga tipikal perempuan yang suka mengurus keperluan dapur dan rumah. Tapi, tidak dengan rengekan anak – anak. tangisan bayi menjadi hal kedua dalam daftar hal yang dibencinya.

Lantas bagaimana denganku? Aku anak tunggal di keluargaku. Garis keturunan tentu akan berhenti jika aku tidak segera mengikat Cher di depan altar. Atau jika ingin marga kwon tetap ada penerusnya, kenapa aku tidak mengangkat anak saja? Bukankah itu lebih mudah? Tapi bagaimana dengan asset dan perusahaan Kwon group? Susah payah Appa membangun perusahaan kami, mendidikku menjadi arsitek muda yang juga pandai berbisnis dengan keras, semua itu kan sia- sia jika aku hanya mampu mempercayakan masa depan group Kwon ditangan seorang anak angkat?

IRONIS!

Kuhela nafasku lagi, pikiranku kacau setiap pagi. Bayangan diriku Meninggalkan Cher dan memilih jalan menikahi gadis korea pilihan orang tuaku. Membuatku terus dilanda keteganggan tanpa batas. Pengalihan titik imajiku pada kontrak – kontrak propertiku, juga tidak mampu mengatasi kebimbanganku.

Hidupku kosong tanpa Cher.

Dan

Perusahaanku Mati tanpa Kwon kecil.

Aku tetap butuh status SUAMI sebagai jembatan untuk berstatus AYAH. Hanya itu jawabannya. Titik. Si gadis keras kepala itu harus menerima kenyataan, aku akan mempersiapkan pernikahan kami diam – diam, menyeretnya menandatangani dokumen pernikahan kami. Aku rasa itu bukan ide yang buruk.

Tapi jika Cher menolak lalu meninggalkanku?

aku tidak akan pernah bisa lagi menjadi Kwon Jiyong, aku hanya akan menjadi lelaki tanpa separuh jiwanya, lelaki kosong yang tidak mau lagi menatap dunia dengan segala permasalahannya, semenjak Cher mengikatku dengan pesonanya, aku hanya berputar pada satu poros, dengan Cherie Blanc sebagai pusatnya.

——————————————————————————————

[Song Boram POV]

Kupandangi lekat gaun yang sedang membalut tubuhku. Sangat cantik dan menawan, untaian krystal swaroski yang dijadikan aksen kalung oleh Jean, membuat gaun putih mutiaraku ini sangat mencolok, sedrhana namun terkesan mewah.

Kutatap citra diriku yang terpantul nyata di cermin. Cantik!. Sesekali narsis boleh kan? Hehehe.. senyum terus berkembang di sudut bibirku, hari ini aku akan menikahi lelakiku. Meskipun kedua orang tuaku tidak sepenuhnya memberi restu, hanya Eomma saja yang mau menerima Jonatthan menjadi menantunya. Abeoji masih keberatan dengan pernikahan ini.

Jarak usia antara aku dan Natthan terpaut delapan tahun, dan menurut adat timur, itu sangat tidak menguntungkan untukku. Natthan hanya akan menjadi benalu hidup yang aku rawat dengan baik. Semua hartaku akan habis untuk menghidupi dia. Menurut pandangan Abeoji, pernikahan kami akan membawa kesialan untukku.

Kuhela nafas singkat.

Cha! Hidup harus berjalan kan? Meskipun tanpa restu Abeoji, aku tetap melaksanakan pernikahan ini. Perlahan seiring berjalannya waktu, aku akan meyakinkan Abeoji, pilihanku tepat dan tidak mengecewakan.

“Boram..kau sangat cantik, aku yakin Natthan pasti akan terpesona sebegitu dia melihatmu”

Merci.. Jean.. gaun ini sangat indah”

“aah.. bukan apa – apa, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, setelah 36 tahun menunggu, akhirnya aku bisa melihat putri baptisku menikah, aku bahkan masih ingat baru kemarin kau kubawa ke gereja untuk mendapat berkat, hidupmu penuh berkat, nak ”

Jean menyusut air matanya, ahh.. Mau tak mau aku jadi ikut melankolis juga, pelupuk mataku sudah mengumpulkan air dari tadi, siap membanjir. Kupeluk wanita berusia kepala enam itu. Meskipun Jean hanya ibu baptisku. Dia benar – benar mengerti diriku. Hanya dia yang merestui dengan lapang dada pernikahanku dengan Natthan.

Kupeluk lagi ibuku.

Merci.. Jean, Merci..

Pernikahan ini adalah mimpiku, menjadi istri yang setiap hari mengurus suami dengan pengabdian yang sempurna. Mengandung anak kami, membesarkanya bersama. Lalu hidup bahagia sampai mati.

“Boram-ya” suara Jonghoon membuyarkan lamunku, kepala pria yang telah menjadi sahabat Natthan semenjak lahir itu muncul di pintu kamar riasku.

“kau yakin Natthan sudah berangkat? Aku belum menemukannya sedari tadi di ruang ganti pengantin Pria, coba kau hubungi ponselnya” lanjutnya.

“Jinjayo? Jas pemberkatannya sudah tidak ada di lemari tadi pagi”

Panik, kutekan segera angka satu di ponselku, ada apa dengan calon suamiku itu? Pemberkatan nikah kami tinggal tiga puluh menit lagi. Apa dia kecelakaan? Atau terjadi sesuatu di jalan? Pikiranku semakin meruncing kearah negatif, kalo tidak terjadi apa – apa dengan Natthan, tidak mungkin dia membatalkan pernikahan ini secara sepihak.

Kutepis pikiranku jauh – jauh, tapi ponsel lelaki itu tidak kunjung diangkat.

hanya operator yang terus menjawab,

“Jean, aku keluar sebentar, mungkin Jonatthan menungguku di luar”

aku masih berusaha menghubungi lelaki itu, hingga tanpa sadar aku telah berada di luar gereja, kakiku terus melangkah, tidak peduli dengan ujung gaunku yang menjuntai di trotoar jalanan, sementara mataku fokus mencari sosok jangkung Natthan. Pikiranku semakin kacau. dunia terasa berhenti berputar. Mataku terus menyapu apa yang bisa dilihat.

Enam puluh menit berlalu, semua sia – sia, semu, tidak ada Natthan. bayangan pria itu tidak tercitra sama sekali. Bagaimana ini? Pernikahan kami tinggal menghitung menit. Bahkan sudah melewati batasnya. Tegakah dia meninggalkanku? Dia memang selalu menghindar jika kutanya tentang kesiapannya menikahiku. Tapi bukan seperti ini juga caranya. Lalu bagaimana dengan mimpiku? Pernikahanku? Masa depanku?

Lututku melemas.

Tidak tahu harus berbuat apa lagi, semua memudar seiring detikan jarum jam, sudah lewat satu jam dari misa pemberkatan nikah kami, dan aku gagal menikah. Airmataku menetes deras, kakiku melangkah tanpa arah, hanya mengikuti bisikan lembut angin penghujung musim gugur Paris. Aku selesai.

——————————————————————————————

[Cherie Blanc POV]

Pernikahan!

Aiah! Sialan Kwon Jiyong! si tua ganteng yang sudah hidup bersamaku hampir lima tahun. Tapi sama sekali tidak bisa mengerti dengan apa yang menjadi pikiranku. Hei.. ayolah.. siapa yang mau menikah di usia 36 tahun? Aku sedang menuju taraf mapan sebagai seorang designer, namaku baru tiga tahun diakui sejajar dengan Lanvin, Donna karan, dan Versace, dan sepagi tadi dia merengek tentang perjanjian suci di depan altar? JISH!! Moodku turun drastis sepagian ini.

“Direktur.. anda tidak apa – apa?”

“ah… ada apa Jean? Maaf, kau tadi pasti memanggilku terus – menerus, aku akhir – akhir ini sedang terlalu banyak pikiran”

Wanita paruh baya itu Cuma tersenyum, lalu menyodorkan secangkir lemmon tea padaku.

“hidup dibawa rileks saja, jika kau memang sudah di sampai batasnya, berhentilah sebentar, lalu refleksikan apa yang kau lakukan, Jiyong lagi sumber masalahnya?

Aku mengangguk lemah. Ya lelaki sialan itu yang udah berhasil membuatku segila ini.

“aku ga tau lagi Jean, ini terlampau sulit, aku tidak mau menikah dan tidak akan menikah”

“ah.. kau ini berhubungan dengan pria asia loh, mereka punya adat sendiri, perkawinan sangat di junjung tinggi normanya, jika kau tidak mau berbelit lagi, kau harus segera mengakhirinya”

“tidak untuk ini, aku sudah terlanjur nyaman dengan Jiyong”

“kalau begitu menikahlah..”

“No! terima kasih, aku masih harus bersaing dengan designer sedunia, aku akan memikirkan itu jika butikku tutup tahun ini”

“eish.. itu tidak akan terjadi, kita berkembang sangat pesat, omzet seminggu ini saja naik 200 persen”

“benarkah?”

“iya.. kau pintar sekali memilih brand ambassador, wajah Korea milik Jung Yunho, Choi Siwon, Choi Minho, Kris Wu, Lee Sungyeol dan Park Chanyeol berhasil menaikkan pesanan dari pasaran asia, brilliant sekali”

“ini berita bagus, aku akan menambah brand ambassador lagi, kita buka cabang di Seoul, katakan siapa sekarang yang paling terkenal disana, aku akan mengontaknya langsung”

“mungkin Lee Jonghyun atau Kang Minhyuk, tapi kau bisa mencoba yang lokal saja dulu, warga Seoul biasanya lebih menyukai fresh face, mungkin Lee Jongsuk atau Kim Woobin, atau pergi saja ke Seoul, kita Audisi secara terbuka saja”

“ide bagus, kita terbang ke Seoul siang ini, cabang disana sudah siap 50 persen kan? Kita bisa pakai untuk audisi terbuka”

“siang ini?”

Kunggukkan kepalaku cepat, aku rasa berlari menjauh dari Jiyong beberapa hari mampu membuat pikiranku fresh lagi.

——————————————————————————————

[Jonatthan Song POV]

28 tahun dan pernikahan!

Aku tahu aku gila, aku terlalu ketakutan tidak bisa hidup nyaman lagi. aku tahu aku pengecut, tapi memilih kabur ke Seoul ide yang paling brilian. aku tidak harus lagi ketakutan setiap malam membayangkan keterikatan yang tidak ada ujungnya, Noona memang baik, tapi aku juga bukan lelaki baik. aku masih bocah dan pernikahan itu artinya tanggung jawab kan?

definisi dari tanggung jawab adalah keterikatan. Dan aku yakin sekali Noona pasti menuntutku memberinya rengekan bocah, owh.. tidak.. jangan katakan itu yang terbaik untuk kami. Bagaimana bisa bocah menjadi ayah dari bocah? Aku bergidik sekali membayangkannya.

Charles de Gaulle tampak ramai dan aku seperti bocah bodoh dengan jas pengantin putih dan segelas starbuks ditanganku. Tadi pagi aku terlalu terburu – buru keluar dari apartemen kami, hanya tiket pesawat menuju ke Seoul, dompet dan passportku yang terbawa.

Ini sangat memalukan untuk calon model terkenal sepertiku. Oh iya.. alasanku memilih kabur dari pernikahanku sendiri adalah impianku yang akan terkubur cepat, yah.. aku dulu kabur dari Seoul ke Paris juga untuk mengejar karier. jadi model merk pakaian branded impianku semenjak kecil, dan entah kenapa aku malah jadi terjebak cinta dengan perempuan tua yang memuja pernikahan.

Aku menghela nafas lega setelah pengeras suara mengumumkan keberangkatan pesawatku, aku segera berlari secepat kilat menyusup ke perut Korean Airlines.

Selamat tinggal Paris.. Au Revoir Noona.

===================================================================

Iklan

5 pemikiran pada “[PROLOUGE] Bleu Mariage

  1. Ping balik: Library | aishitaWorld

  2. Ping balik: [Part 1] Bleu Marriage | aishitaWorld

  3. waahh..diff ini umur’a dituain smua yaa??ckckckckck..
    gak kebayang deh jiyong yg berumur 40th..hahaaaha..
    oia..yg unmistaken wedding itu dilnjutin dong saeng..
    udh penarasan nih sm ending crta’a..*puppy eyes*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s