[Part 1] Bleu Marriage

cover

AUTHOR     : AISHITA KIM

GENRE        : Romance, Angst

LEGTH         : Chaptered

Prologue |

MAIN CAST :

  • Cherie Blanc
  • Kwon Jiyong
  • Song Boram
  • Jonatthan Song / Song Seung Hyun FT island

Other Cast :

  • Park Chanyeol as Seunghyun friend
  • Choi Jonghoon FT Island

Yang Numpang lewat XD :

  • Hwang Minhyun NU’EST
  • Jung Yunho TVXQ
  • Choi Siwon Super Junior
  • Byun Baekhyun EXO K

RATING                  : PG 17

DISCLAIMER        : Original story by Aishita Kim, feel free to blame this one Please rcl ^^ gomawo ^^

jangan lupa juga maen ke aishitaworld yaaa… ^^

=========================================================================

Seoul, Pagi keduabelas, pasca pelarian.

Pria penuh ambisi, yang mulai menata hidup, Song Seunghyun.

————————————-Aishita Kim—————————————

Cuaca cukup cerah pagi ini, setelah badai salju kemarin. Kawasan Gangnam mulai menggeliat sedari pagi, termasuk Song Seunghyun. Sudah dari pagi buta dia keluar dari apartemen mewah milik sahabatnya, Park Chanyeol. Hampir tiga jam dia berjalan mengitari kawasan perkantoran sekitaran sungai terluas se-Korea itu, mencoba mencari agensi yang mau menerima pria tua untuk ukuran model amatiran seperti dirinya. Tapi hasilnya Nihil, agensi – agensi sialan itu lebih memilih pria – pria muda dan berwajah cantik, semacam Hwang Minhyun, atau sialnya, Park Chanyeol sahabatnya sendiri.

Seunghyun mengacak rambutnya frustasi. Sudah sepuluh agensi model menolaknya sedari pagi. Pria itu kini duduk di depan gedung megah milik Lee Sooman, mata nanarnya menerawang jauh, gedung itu pernah meloloskannya menjadi trainee, dan karena arogansi mudanya, Seunghyun menolak tawaran itu.

Kalo saja waktu itu dia tidak egois menuruti egonya sendiri, menurutnya, menjadi member Boyband itu tabu, lelaki tidak pantas melantunkan lagu dengan gerakan gemulai, yang disebut koreo Noona Killer. Semacam tarian pembunuh wanita – wanita tua, agar mereka royal membeli apa saja yang dijual si Agensi artis.

Seunghyun menghela nafas jengah, andai dia tidak menolak, mungkin sekarang dia sudah debut sebgai salah satu member TVXQ atau Super Junior. Nama Jung Yunho dan Choi Siwon sebagai model catwalk berkibar setelah mereka mau debut sebagai member Boyband.

Dan sekarang? Lihatlah dirinya, seonggok daging bernyawa yang mungkin tidak pantas disebut sebagai manusia, dengan usia 28 tahun dan tidak punya tujuan jelas untuk hidup, lelaki menyedihkan yang hanya mampu menatap langit. Berharap keajaiban datang dengan sendirinya.

Aish! Sial! Agensi kecil saja menolaknya, apalagi agensi big three semacam SM entertainment. Seunghyun mengacak lagi rambut merah mahagony-nya, saran dari Chanyeol kemarin, tern warna untuk diterima menjadi model papan atas. Oh iya, tentang Park Chanyeol, Seunghyun benar – benar tidak enak jika terus – menerus tinggal di tempat pria itu. meskipun mereka sudah bersahabat semenjak Sekolah Menengah, tapi dia sering tidak enak dengan Byun Baekhyun, kekasih Chanyeol. Seharusnya dua lelaki itu yang tinggal satu apartemen, bukan dia.

Rasanya, kembali ke Paris akan lebih baik. Meskipun dia harus menikahi wanita tua itu, mengelembungkan perutnya, lalu menjadi ayah, nasib mungkin akan lebih menguntungkan dia, hidup dari uang Boram, tanpa harus bekerja, dia cukup terikat saja kan? Tapi apa Song Boram masih mau menerima lelaki pengecut seperti dirinya?

Drrrtttt!!!

Getaran ponsel di saku celana Seunghyun sukses melemparkan Seunghyun kembali ke dunia nyata. Park Chanyeol, nama itu tertera di layar ponselnya. Ia segera menyentuh tombol terima, siapa tahu ada berita bagus.

“Yeob..”

“YA! Aku sudah beberapa kali menghubungimu, kau ada dimana? Masih disekitaran gangnam? Jika bisa berlari, cepat datanglah ke agensiku, kami mencari model baru, aku sudah merekomendasikanmu. Ada brand besar sedang mencari brand ambassador, dan aku yakin kau pasti akan diterima”

“Jinja”

“Ne! cepatlah!”

Setelah suara nyaring Chanyeol terputus, lelaki itu segera berlari, tidak peduli dingin menggerus lubang hidungnya. Mimpinya akan semakin dekat untuk teraih. Hidupnya akan segera berubah. Dari abu – abu menjadi putih.

=========================================================================

Paris, malam kedua belas, pasca kegagalan pernikahan.

Wanita yang masih terbelenggu cinta semu, Song Boram.

—————————————-Aishita Kim————————————-

Boram menikam manik matanya jengah, dua belas hari dia seperti mayat hidup, masih mengenakan gaun pengantinnya. Tidak mau berganti hari, juga lelaki. Emosinya masih naik turun, kadang menangis meraung, kadang tertawa, bahkan berdialog dengan angin. Kenyataan terlalu berat untuk dipikulnya seorang diri.

Seunghyun pergi, tepat di hari pemberkatan pernikahan mereka. Selayaknya pemimpi pernikahan, dia hancur sekeping demi sekeping, kegagalannya berubah menjadi partikel jiwa yang terguncang. Ia hanya nyaman dengan ruang kosong berisi ranjang yang terhias sempurna, tempat dia dan Seunghyun menghabiskan hari bersama, menjadi tempatnya berdiam diri.

Di ujung ruang itu, dua bola mata Choi Jonghoon terus mengawasi gerak – gerik Boram. Lelaki itu juga tidak tidur hampir setiap malam, hatinya ikut terpecah, seandainya saja lelaki yang harus menikahi Boram itu dia, dia tidak akan berlari karena takut terikat.

Kesalahannya juga, kenapa membiarkan lelaki itu, dia sudah enggan menyebut namanya, menjadi pemilik hati rapuh wanita yang diam – diam meraih separuh nyawanya untuk keluar dari kepemilikannya yang individual. Menjadi pribadi dengan kehidupan yang lebih ceria, dari hitam kemudian abu – abu, karena pria itu baru menyadari, perempuan yang sedang menekuk lutut dihadapan ranjang kayu bisu itu, telah membuat ribuan kupu – kupu terbang dari perutnya. Saat Jonghoon mengetahui pernikahan impian itu batal.

Apa ini yang disebut jatuh cinta?

Jonghoon hanya ingin merasakannya sekali saja, maka dari itu dia tetap berada di sudut ruangan ini, menyaksikkan kebisuan Boram, sesekali Pria itu menyodorkan sekerat roti ataupun segelas air, berusaha agar boram tidak mati kelaparan hanya gara – gara bocah tengil itu.

“Boram-yaa, aku mohon makanlah, sedikit saja”

Tidak ada jawaban.

Jonghoon terpaksa membuka mulut Boram dengan kedua tangannya, menekan secuil roti masuk ke perut Boram, wanita itu tidak berontak, malah air mengalir deras dari sudut matanya. Jonghoon menghela nafas lagi.

“aku mohon, kunyahlah, perlahan, aku tidak mau kau mati konyol hanya gara – gara tidak jadi menikahi pengecut itu”

Boram mulai meraung, tangannya bereaksi cepat, dan dada Jonghoon jadi sasarannya. dia masih tidak terima Seunghyun-nya dicaci, meskipun bocah itu sudah menghancurkannya.

“Pukul aku sesukamu, asal kau kembali lagi, kau tahu, aku juga hancur melihatmu begini, aku tidak tahu di mulai dari mana, tapi setiap aku melihat kedalam manik matamu, aku menemukan hidupku disana, jadi kalau kau ingin menikah, aku siap mengikatmu”

Boram terdiam, matanya kini beralih pada mata Jonghoon, mulutnya terbuka ingin berucap sesuatu. Tapi terlambat, bibirnya terkunci rapat oleh bibir Jonghoon. Ciuman mereka terhenti ketika rasa asin bercampur dengan kecupan – kecupan Jonghoon. Air mata Boram dan jawaban gadis itu.

Jonghoon melepas ciuman mereka, lalu membuang nafas.

“Noona, aku tidak buruk, aku bersedia menjadi pelampiasanmu, aku mau kau nikahi, aku mencintaimu, jangan abaikan aku lagi”

Pria itu mulai bermonolog.

“aku mau kau mengerti, tidak ada Seunghyun, kau masih punya Jonghoon, aku mohon Noona, lihatlah aku, aku mohon”

Boram masih terdiam, tapi tangannya bergerak menyentuh wajah Jonghoon. Jonghoon terdiam, menanti reaksi Boram selanjutnya.

Pardon me (maaf), I cant”

Lirih, bibir Boram bergerak.

“Pergilah..”

Lanjut wanita itu perlahan.

Jonghoon tau ini jawabannya, dia segera berdiri, lalu keluar.

Sementara Boram kembali lagi dengan dunianya, berdiam tanpa ingin melakukan apapun. Setidaknya, hingga rencana di otaknya tersusun rapi dan matang. Akan ada waktunya dia nanti membuat lelaki itu menyesal, seumur hidup dan hidup sebagai Jonatthan Song.

=========================================================================

Seoul, Matahari sayup kedua belas, ditengah salju pertama.

Wanita egois yang baru saja bebas, Cherie Blanc

—————————————-Aishita Kim———————————–

Surya hampir tenggelam di kaki langit barat, wanita itu tampak angkuh dengan gaun dark blue berpotongan rendah di dada beraksen Kristal swaroski disekitarannya, menambah kesan sombong dan elite. tangan kanan wanita itu tergengam segelas wine keluaran tahun 1940, Cherie Blanc melangkah angkuh diantara puluhan tetamu undangan pesta penyambutan pembukaan cabang brandnya di Seoul. Beberapa model Pria juga tak luput dari undangan gala dinner itu.

Yah, semenjak dua belas hari lalu, Cher belum juga menemukan pria asia yang sesuai dengan kriteria brand ambassador rancangannya. Badan wanita itu rasanya ingin patah terbagi dua. Tapi kepuasaan didapatnya, tentu setelah berhasil kabur dari Kwon Jiyong hampir dua minggu, rasanya pagi lebih cerah dan bersahabat. Tidak ada lagi rengekan tentang pernikahan, atau hal yang berbau dengan itu.

Bagaimana kabar lelaki itu ya?

Sebenarnya berat juga meninggalkan Jiyong di tengah gerusan orang tua yang meminta dia segera menikah. Hai.. bukan salah Cher jika Jiyong bertahan disisinya, Cher sudah menekankan berkali – kali pada lelaki itu, mereka tidak akan pernah berakhir dengan ikatan. Ini dirinya, dan prinsip hidupnya. Jiyong memang harus segera memilih, aku atau perusahaannya. Siapa peduli, mereka berhubungan hanya untuk saling menguntungkan kan? Jadi apa salahnya tidak menikah? Disesapnya nikmat anggurnya, owh.. ini surga.

“mademoiselle* (Nona, bhs. prancis)”

Cher tersenyum angkuh sekali lagi, hanya satu orang yang memangilnya begini, Mr. Park, CEO dari agensi tempat model – model asia yang selalu dia tolak. Kecuali Park Chanyeol, hanya karena tidak enak jika menolak anak dari Mr. Park itu.

“Mr. Park, Anyeonghaseo”

Terpaksa Cher menggulum senyum manis. Pria tua dihadapannya ini pasti punya maksud tertentu.

“wah.. Anyeonghaseo, bahasa korea anda cukup baik”

“ah, tidak biasa saja”

Jawab Cher lancar dalam bahasa Korea, hidup hampir lima tahun dengan Jiyong tentu saja membuatnya fasih berkomunikasi dalam bahasa Korea, termasuk mengumpat juga. Kekekekeke.

“kau selalu saja merendah, kudengar kau mencari brand ambasador”

Benar kan, Cher menggulum senyum lagi. Malas menjawab.

“aku punya rekomendasi bagus”

Bisik lelaki itu, lalu mengkodekan sesuatu pada seseorang di sudut ruangan. Cher harap bukan anaknya lagi, bocah itu memang tampan dan tinggi, tapi kurang manly saja untuk model brandnya.

Park Chanyeol muncul dengan seseorang disampingnya. Lelaki tampan dengan tubuh sempurna. Tidak terlalu kurus, tidak terlalu gemuk, proporsinya sangat pas sekali dengan apa yang Cher cari, Mata Cher tidak mau beralih sedikitpun dari wajah tirus bergaris tegas pria itu.

Madammoiselle, inikah yang anda cari?”

“well, Mr.Park, tolong siapkan kontraknya besok, aku tunggu jam Sembilan di kantorku”

Ucap Cher tanpa mengalihkan pandangan dari Seunghyun, lelaki itu. Pandangan menilai dan, entahlah.. jantungnya berdetak ribuan kali lebih cepat dari detikan alat pengukur waktu buatan hermes di pergelangan tangannya.

Bonjour, Miss Cherie Blanc, Je m’appelle Song Seunghyun”

(Hallo. Miss Cherie Blanc, nama saya Song Seunghyun)

“Voila! Bahasa Prancismu bagus, tapi kita pakai bahas Korea saja ya? Dan namamu, Song Seunghyun? Panggil aku Cher, tanpa embel – embel Miss, atau Noona, selamat datang di duniaku, dan selamat bergabung”

Cher tersenyum manis lagi, kali ini tulus, entah kenapa, yang jelas, jika kalau dia berpisah dengan si tua Jiyong itu, sepertinya dia tidak usah susah – susah mencari pengganti.

=========================================================================

Paris, pagi kedua belas, kepingan salju pertama.

Pria matang yang kehilangan separuh jiwanya, Kwon Jiyong.

—————————————Aishita Kim ————————————

Lelaki itu menyesap lemon teanya singkat, pandangannya menohok ke taman depan rumahnya, hanya beberapa orang saja yang lalu lalang di trotoar depan taman. Tapi tidak ada salah satu diantara mereka yang mencirikan seseorang yang ditunggunya.

Kepingan salju merintik turun, walaupun tidak sebegitu deras. Jiyong memandang malas jendela luar rumahnya. kepulan uap dari cangkir tehnya tidak membuat lelaki itu bergeming. Dia akan tetap memilih seperti ini beberapa hari kedepan. Pikirannya kacau, hanya dengan hilangnya koper Cher dari lemarinya, perempuan itu tidak meninggalkan pesan apapun. Dia hilang tanpa bekas. Tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Termasuk Jade, assisten pribadinya.

Tapi Jiyong setidaknya masih bisa bernafas lega, butik milik kekasihnya itu masih berjalan normal seperti biasanya, besar kemungkinan pemiliknya akan kembali, sesekali untuk mengecek roda kehidupan butik itu.

Telepon dari Seoul juga terus menghantuinya beberapa hari ini, Eomma meminta dia segera pulang dan menemui gadis pilihan orang tuanya. Sudah beberapa cara dia lakukan unutk menolak perjodohan itu, hidupnya sudah tidak lagi bisa diatur kesana kemari oleh kedua orang tuanya.

Lelaki itu kembali menghela nafasnya dalam – dalam, kehilangan Cher benar – benar membuat harinya kacau. Puluhan kontrak propertinya terbengkalai, pembangunan beberapa gedung dibawah perusahaannya terhenti sejenak. Dia benar – benar kacau.

“Pembukaan butik Cherie Line milik Cherie Blanc di Seoul berjalan lancar”

Kotak bercahaya temuan John Logie Baird itu tiba – tiba menyiarkan berita  berawalan monolog tentang kekasihnya. Jiyong tersenyum puas. Tertangkap kau, Cherie Blanc.

Lelaki itu kembali tersenyum setelah sekian lama tak ada yang berkembang di bibirnya. Ia segera meraih ponsel disaku piyamanya.

Bonjour, Louissa travel agent, bisa pesan tiket penerbangan ke Seoul hari ini?”

=========================================================================

Huwaaaaa…

Ini part terancur yang pernah saya buat,, jadi mohon kritik aja deh,, jangan pujian.. kritik sepedesnya ya.. please.. ^^

Iklan

3 pemikiran pada “[Part 1] Bleu Marriage

  1. Ping balik: Library | aishitaWorld

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s