[The Alter Ego] 1st : Rebellious Fate

aishita alter ego

Title               : [The Alter Ego] 1st : Rebellious Fate

AUTHOR     : AISHITA KIM

GENRE        : Romance, Life,

CAST          :

  • Im Chaeri (OC)
  • Kim Himchan B.A.P
  • Jung Yunho DBSK
  • Jung Minjoo (OC)
  • Kim Sunggyu Infinite

Yang numpang lewat :

  • Lee Chunji Teentop
  • Lee Changjo Teentop
  • Hwang Minhyun NU’EST
  • Seo Eunkwang BTOB
  • Yu Barom C-CLOWN
  • Yoon Doojoon B2ST

RATING                  : PG 17

DISCLAIMER         : Only story that mine. Casts Belongs to their Family, God and their Life. other character was taken with their permission :)

WARNING             : TYPO everywhere.. Minahae… :(

Author Talk           : Mianhae Rederdeul… First Chap ini terpaksa tetunda beberapa minggu dari yang di jadwalkan, karena konflik dan alur ada beberapa perubahan, but.. lest enjoy this one.. Please RCL too :)

Previous Story       : teaser |

=========================================================================

Rebellious Fate

=========================================================================

“Aku TIDAK GILA! Terima kasih atas tawaranmu”

Chaeri menaikkan nadanya dua oktaf lebih tinggi, Kesal pada sesosok mahluk menyebalkan dihadapannya, gadis molek itu langsung menyambar handbag keluaran Hermes disampingnya, mengeja langkah, menuju pintu keluar. Hah! Sia – sia sekali dia menghabiskan waktu hampir dua kali putaran jarum jam, hanya untuk menemui Pria sialan yang kini ia tinggalkan sendiri dengan cangkir espressonya. Chaeri tidak GILA! Dan tawaran bodoh pria itu untuk berkonsultasi tentang perilaku Chaeri, membuat Chaeri semakin jengah, dia tidak suka Pria ini terus merengeki kehidupannya.

Sementara..

Si Pria menghela nafas berat, anak mata pria itu terus mengekor pergerakan Chaeri hingga memastikan tubuh lencir Chaeri, hilang dalam dekapan perut taksi, dari balik jendela kaca Café. beban di kepalanya bertambah berat dengan penolakan Chaeri. Ia sendiri lalu keluar dari table dimana dia dan Chaeri bertemu tadi, langkahnya sedikit tersaruk menuju meja kasir. Mengeluarkan beberapa lembar Won, lalu keluar dari cafe menuju pelataran tempat mobilnya terparkir.

Tugasnya kali ini benar – benar tidak mudah.

Andai saja dia tidak ingat dengan jasa kakak Chaeri padanya. Mungkin Himchan, ah yah.. nama pria yang baru saja ditinggalkan Chaeri itu, tidak mengemis pada si kepala batu anak bungsu keluarga penolong hidupnya. Membujuk Chaeri berhari – hari agar mau konsultasi tentang apa yang terjadi di hari gadis itu. Menemui Chaeri meskipun Himchan tau, dia kan tertolak dan kembali ditolak.

Ah.. hidup memang seperti putaran roda pedati. Himchan tidak kekurangan satupun dalam hidupnya. Tapi harus mengemis pada gadis yang dia rasa tak bermasalah sedikitpun, gadis itu hanya hobi berganti lelaki. Bukan masalah serius selama tidak terjadi penyekapan, penyiksaan atau pembunuhan.

Lagipula, Kariernya sebagai dosen muda jurusan Psikologi Seoul University sudah cukup untuk membuatnya menelan nasi berlauk daging setiap hari. Dia juga bukan psikolog yang baru saja menuntaskan studinya. Eksistensi Himchan sebagai ahli jiwa juga sudah mendapatkan pengakuan dunia. Dia menyabet penghargaan yang terbaik dari yang paling baik untuk Disertasi gelar Doktornya. Bermodal semua prestasinya, uang akan datang dengan sendirinya ke tangan pria berusia 25 tahun itu. Belum lagi uang dari pasien yang selalu membludaki kliniknya, juga sudah lebih dari cukup untuk membuatnya duduk nyaman di belakang kemudi kendaraan pribadinya.

Tidak ada satu alasanpun untuk tetap mengejar Chaeri menjadi pasiennya.

Tapi janjinya pada kakak sulung Chaeri, tidak mudah begitu saja dia hapuskan.

Himchan menyaruk kedua kakinya lebih cepat lagi,  dia benar – benar lelah secara fisik dan emosi. Setelah menelusupkan tubuhnya di perut Ferrari merah miliknya, dia segera memejamkan mata, mencoba mensugesti dirinya, bahwa dia akan berhasil mengajuk hati ice princess, adik sahabatnya itu.

=========================================================================

“lelaki bernama Kim Himchan itu benar – benar gila! Tidak waras!”

Chaeri meledak – ledak sedari tadi, tidak peduli pada berpuluh pasang mata yang berada di cafe tempat dia mencoba mengusir kekesalan, beralih pada sosok rupawanya. Mulut gadis itu terus menyerapah dengan nada naik turun tanpa mengecilkan gelombang frekuensi pita suaranya.

“Jung Minjoo! kau tahu, aku dikatakan sakit jiwa! Hanya karena aku tidur dengan lelaki – lelaki itu tanpa dilandasi perasaan, aku disimpulkan punya gangguan psikologis! Tahu apa dia soal kualitas dan kapasitas lelaki – lelaki pilihanku”

Minjoo, yang diajak bicara, menghela nafas sebentar, seolah tak peduli dan membiarkan matanya sibuk menekuri karya Dan Brown ditangannya, tapi telingga gadis itu tetap aktif mendengar, jangan salah, gendang telingga Minjoo sama cerdasnya dengan segumpal otak manusia, mampu mendengar dengan detail meski gadis itu tampak larut dalam bacaan.

Minjoo pendengar yang baik dan mampu memecahkan masalah dengan bijak. Apapun yang ditimbang gadis itu, akan menjadi sebuah pemecahan tanpa ada pihak yang tidak terima dengan keputusannya.

Dan Chaeri mengadu pada manusia yang tepat.

Sesekali Minjoo menimpali ocehan sahabatnya itu. Sementara otaknya memutar cara mengatasi keluhan Chaeri, Hidup Chaeri sudah terlalu sulit untuk di runut, hobinya merayu lelaki sudah diluar ambang batas, menjurus ke penyakit jiwa, Chaeri sakit dan dia tidak sadar akan sakitnya, dalam seminggu dia bisa berganti selusin lelaki. Ok! Ini berlebihan, tapi realita itu yang Minjoo temui selama bersahabat dengan Chaeri hampir tiga tahun lamanya.

“aku setuju dengan pendapat Kim Himchan-sshi kali ini, aku juga sangat khawatir terhadap hobimu itu”

“Ya! kenapa kau malah membela si Psikiater sialan! Aku ini waras Minjoo-ya, kenapa lelaki dungu itu tiba – tiba masuk ke dalam masalah pribadiku! Hidupku! Kami tidak pernah saling mengenal, dan sekarang dia muncul begitu saja, mengatakan aku ini object penelitian yang sempurna untuk mengejar pengukuhan gelar professor, hanya karena aku berkencan dengan lusinan lelaki, dia melakukan hal tidak masuk akal untuk mengejar karier yang lebih bagus lagi, dia sakit jiwa Minjoo-ya, Psikiater termahal dan terbaik Seoul Jidatmu! mana bisa orang gila menyembuhkan orang berpenyakit jiwa! DAMN! aku benar – benar harus menendang Kim Himchan secepatnya dari hidupku!”

“kalau begitu, berhenti menemuinya, kau sendiri yang mengayunkan kakimu untuk menjumpai Kim Himchan, dan.. kau yakin, mengatakan dirimu waras? Aku tanya berapa lelaki yang kau tiduri seminggu ini?”

“ya! aku hanya bermain sebentar dengan Lee Chunji dan Lee Changjo, lalu tidur di tempat Hwang Minhyun”

“yakin? Lalu siapa Seo Eunkwang? Yu Barom?”

“Yaah… aku hanya mencium mereka, kami hanya bertemu di bar, sumpah Minjoo-ya, tidak ada kelanjutannya, seminggu ini aku hanya menghabiskan hariku dengan Lee Bersaudara dan Minhyun”

“kau bahkan berkencan dengan kakak beradik, apa itu normal? cobalah Chaeri-ya, kau memang perlu Psikiater, ada yang tidak beres dengan apa yang kau lakukan, setidaknya Kim Himchan itu psikiater nomer satu di Seoul, dia cerdas dan mampu menggali apa yang terjadi pada setiap pasiennya, memang dia masih muda, tapi kredibilitasnya tinggi”

“aku tidak peduli dengan karier lelaki sialan itu, bagiku dia yang gila”

“yaah.. itu saranku saja sih, terserah kau mau menerima atau tidak, oh.. bagaimana dengan kekasih – kekasihmu, aku bahkan hampir tidak bisa menghitungnya dengan jariku, kau mungkin bisa mengatakan kau waras, tapi bagaimana dengan perasaan para lelaki itu, kau juga harus memikirkan mereka, sedikit saja”

“Hubunganku dengan mereka semua sehat kok, aku betah berada dalam dekapan mereka, semua terasa lengkap, aku punya Yixing yang perhatian, Jonghyun yang tampan, Junhyung yang loyal, Jongwoon yang sabar, Jonghoon yang sempurna, Sunggyu yang dewasa, Howon yang atletis, dan Sungjae yang manis”

“setidaknya kau harus mulai menentukan pilihan, para lelaki itu juga jengah menunggu, bagaimanapun juga kau harus menikah, Imcha-ya. kau lihat Kim Jongwoon, dia hampir mengakhiri kepala tiganya tahun ini, seharusnya dia sudah membangun sebuah keluarga kecil, jika saja kau tidak menggantungkan perasaanya, atau mungkin Kim Sunggyu, karier lelaki itu mapan dan dia cukup dewasa untuk bertanggung jawab, menikah bukan hal yang buruk, Imcha-ya”

“kau tahu pasti aku memilih siapa, untuk pendampingku kelak, Minjoo-ya.. jika saja dia tidak menerima rencana Ajusshi memergerkan perusahaan dengan menolak pertunangan gila itu, jika saja dia melihatku sedikit saja, pasti aku tidak akan bertindak sebrutal ini”

“tingkat delusionalmu terlalu tinggi Imcha-ya, kau tidak mungkin menemukan streotipe yang sama pada satu lelaki”

“maka itu aku perlu lusinan lelaki, dan delapan lelaki yang sedang aku kencani memiliki satu dari sifat milik Dia, aku tidak akan bisa berhenti kecuali dia yang menghentikanku”

“jangan membatasi dirimu sendiri untuk dicintai, aku tahu kalian bertemu dengan takdir yang menyakitkan, tapi setidaknya kau juga harus bergerak, tidak berada dalam kungkungan sangkar yang kau buat sendiri, dia masa lalu yang akan terus berada dalam masa depanmu, buktikan jika kau juga mampu untuk keluar dari apa yang dia pikirkan”

“Dia juga harus berhenti memperhatikanku seperti sebelum kami mengetahui kebenaran nyata dari secuil kisah kedua orang tua kami, Dia masih memperlakukanku seperti bayinya yang rapuh dan haus kasih sayangnya”

”itu sifat bawaanya, kau harus membedakan itu, bagaimanapun juga kalian saudara seayah, walaupun berbeda ibu”

“Arraseo, Minjoo-ya.. aku tahu aku tidak akan pernah menang berdebat denganmu, ah.. salju turun lagi.. aku benci salju..” monolog Chaeri seraya melemparkan pandangan ke jalanan lengang di luar café, “Lee Howon pasti enggan keluar dari kasurnya, atau aku akan menelepon Yixing? Ah lelaki itu pasti sibuk meracik Kopi, cafenya ramai kalau dingin begini, ah.. iya.. Kim Sunggyu saja, hari ini dia mempunyai jadwal mengajariku dasar – dasar hukum pidana”

”aigoo… bocah ini, kau sengaja pamer padaku ya? aaah… andai aku juga bisa memilih siapa lelakiku hari ini.. aku tidak akan membusuk di pojokan café sambil berkencan dengan mahakarya Dan Brown”

“kau harus bersabar, Doojoon Oppa bekerja demi masa depan kalian, dia lelaki baik Minjoo-ya, aku belum pernah menemukan tipe seperti itu pada setiap lelaki yang aku kencani” timpal Chaeri seraya mengetikkan pesan pada layar ponselnya. Kim Sunggyu jawaban terbaik untuk pulang ke neraka yang disebut orang lain Rumah, Sore ini.

“tapi membosankan” dengus Minjoo cepat.

“apanya yang membosankan? Hidupku jauh lebih membosankan, aku harus pulang ke rumah yang tidak ingin aku singgahi, bertemu dengan anggota keluarga yang sama sekali tidak saling mengerti, kehidupan kami hanya berputar di meja makan, tepat saat semua anggota keluarga berkumpul untuk ‘makan’, berbasa – basi, padahal sama sekali tidak ada yang perlu dibahas”

“nona pengeluh sepertimu mungkin tidak akan pernah mengerti arti keluarga, ah.. itu Kim Sunggyu-ssi, cepatlah, aku rasa dia tidak ingin berlama – lama berada di café ini, langkahnya lebih cepat dari biasanya”

“huft! Dasar lelaki, selalu butuh hal yang sama, dia pasti menagihku naik ke atas ranjang malam ini, ah.. Minjoo-ya aku pamit sekarang, terima kasih sudah mau mendengar celotehanku”

“yeah.. nikmati soremu, Nona Im”

“eoh.. semoga.. hari ini berjalan seperti yang kau harapkan”

=========================================================================

“Im Chaeri, Eoddigayo… aish Jinjja.. Eodiga..”

Yunho terus menggumam, mencoba tetap berkonsentrasi memegang kemudi, sementara sepasang manik matanya terus menyapu trotoar sepanjang pinggiran sungai Han. Mencoba menemukan sosok gadis yang sedari tadi mendominasi pikiran pewaris pertama King Group itu. Langit juga semakin menggelap, detikan Tag Heuer di pergelangan pemuda itu hampir menunjuk angka 12, tengah malam, setiap jengkal sudut Cheongdamdong hingga Apugejong sudah berkali – kali di gilas roda Porsche hitamnya. meneliti Belasan klub malam yang tersebar di area itu, juga sudah dia singgahi, berspekulasi Chaeri menghabiskan malamnya dipelukan hingar bingar kehidupan malam Seoul.

Tapi raga Im Chaeri.. belum tertangkap di pantulan retina mata Yunho.

Yunho sudah sangat putus asa, berkali – kali juga dia mengecek ke semua mata – matanya yang tersebar di setiap sudut kediaman lelaki – lelaki Chaeri. Tidak terlihat Chaeri menginjakkan kakinya di salah satu rumah dari lelaki – lelaki itu, Ini hari senin, dan Yunho tahu persis, seharusnya Chaeri bersama dengan Kim Jongwoon, tapi hasilnya nihil. Im Chaeri seperti tertelan bumi setelah Kim Himchan, melaporkan pada Yunho pertemuannya dengan Chaeri yang gagal.

Apa Chaeri sakit hati? Bisa saja, tidak ada orang waras, ah.. yang merasa waras dipaksa berkonsultasi dengan Psikiater, atau jangan – jangan Chaeri tahu konsultasi paksaan Himchan atas dasar perintahnya? Lalu memutuskan untuk menghilang, meninggalkan kediaman keluarga Jung, karena tidak ingin bertatap muka dengan Yunho lagi?

Atau… Chaeri mencoba bermain dengan perasaan Yunho.. dan sekarang dia berada dalam pelukan lelaki baru, yang lebih tampan, lebih muda, lebih kaya dari Yunho?

“ARGH!!!!”

Yunho membanting setir jengkel, membiarkan bemper Porsche-nya sedikit beradu dengan pinggiran trotoar, kepalanya hampir pecah, dia tidak bisa hidup tanpa Chaeri, dan tidak tahan harus berbagi Chaeri dengan lelaki – lelaki lain itu. Yunho sadar mereka memang tidak akan pernah bisa bersatu lagi, tapi bukan begini cara Chaeri membalas sakit hatinya, tidak dengan berkencan dengan banyak lelaki. Yunho juga tidak ingin berpisah dengan gadis itu, keadaan yang membuat mereka harus seperti ini.

Korban sebenarnya dari permainan takdir ini adalah Yunho.

Yunho selalu kalap jika tidak mendapat laporan dari mata – mata profesionalnya tentang kepastian dimana keberadaan Chaeri. malam ini entah yang keberapa kali, Yunho harus menghabiskan sisa detikan jam di jalanan, mencari Chaerinya. Memastikan Chaeri selamat berada dalam pelukan lelaki – lelakinya. Tidak terjerembab dalam bahaya atau sejenisnya.

Jika tidak ada perubahan, ritme Chaeri selalu berputar konstan, Senin untuk Kim Jongwoon, Selasa untuk Kim Sunggyu, Rabu untuk Lee Howon, Kamis dengan Lee Jonghyun, Jum’at dengan Zhang Yixing, Sabtu milik Yong Junhyung, dan minggu untuk Choi Jonghoon.

Yunho mengisi lubang alveolusnya banyak – banyak, udara dini hari Seoul lumayan membuatnya sedikit rileks, perlahan mata lelaki itu memberat, biarlah malam ini dia tidur di jalanan, pulang ke rumah juga tidak membantunya, karena poros pikiranya hanya satu, Im Chaeri.

=========================================================================

Matahari baru saja menerpa hangat pipi Chaeri, ketika pintu kamar Kim Sunggyu berdebam keras, memaksanya membuka lebar kelopak matanya.

Tubuh bongsor Jung Yunho berdiri angkuh di mulut pintu, nafas lelaki itu naik turun, yah.. emosi lelaki itu sedang berada di ubun – ubun kepalanya. Siap meledak kapan saja. Tapi Chaeri tidak ambil pusing, dengan santainya dia menarik selimut putih menutupi tubuh polosnya, membisikkan sapaan mesra di telingga Kim Sunggyu, mencoba menyadarkan Sunggyu dari buaian mimpi indahnya.

Yunho masih tak bergeming di tempatnya, membiarkan matanya merekam setiap adegan yang terjadi di hadapannya, mulai kecupan pagi panas Sunggyu di bibir ranum Chaeri, hingga muka kemerahan Sunggyu yang menahan malu karena ketahuan tidur dengan adik koleganya itu. Suasana semakin terbangun canggung, meskipun kini mereka bertiga sudah berkumpul mengelilingi meja makan untuk sarapan.

“Hyungnim, jeongmal Jeosonghamnida, aku dan Chaeri, ah kami memang berkencan, dan maaf semalam aku tidak mengantarnya pulang ke rumah, maafkan juga aku tidak memberitahumu”

Sunggyu mencoba membuka obrolan, sayangnya Yunho tidak tertarik pada permintaan maaf Sunggyu, dia hanya mengangguk singkat, matanya lebih tertarik menatap bercak kemerahan di leher Chaeri. Sial! Kim Sunggyu dapat banyak malam tadi! Yunho benar – benar tidak tahan lagi! Ditariknya lengan Chaeri menuju pintu keluar, meninggalkan Sunggyu dengan spekulasi di otaknya, Yunho memang tegas, tapi tidak pernah sekasar ini.

Yunho segera mengunci tubuh Chaeri dalam Porsche hitamnya, sebegitu mereka tiba di groud floor apartemen Sunggyu. Melarikan mobilnya menjauh dari apartemen Sunggyu, Takut gadis itu akan kabur darinya.

“KAU! KENAPA SEMALAM TIDAK KEMBALI! MENONAKTIFKAN PONSEL DAN MEMBIARKANKU KALUT SEPANJANG MALAM!”

Chaeri menghela nafas santai, membusurkan bibirnya, karena Yunho selalu luluh dengan senyumnya.

“tidak ada lagi alasan aku harus mengatakan kemana aku pergi, dengan siapa, akan kembali atau tidak, kita sudah tidak punya ikatan apapun”

“YA! KAU! Imcha-ya! setidaknya hormati aku sebagai kakakmu”

“Jung Yunho-sshi, aku tidak pernah membuat ikatan semacam itu dengan mantan kekasihku”

“ok, jika kau beranggapan begitu, tapi tolong berhenti Imcha-ya, aku lelah melihatmu berkencan dengan lelaki yang berbeda setiap hari”

“LALU KENAPA KAU HARUS BERTUNANGAN? KAU LELAH SEMENTARA AKU JUGA TERSIKSA! KAU PIKIR AKU JUGA NYAMAN BERPINDAH DARI SATU LELAKI KE LELAKI LAINNYA!”

“SIAPA JUGA YANG MENGINGINKAN KEADAAN INI!”

“BERHENTI MEMBENTAKKU! AKU LELAH JUNG YUNHO! LELAH! Tidak bisakah kau membiarkanku bernafas? Aku sudah cukup hancur dengan keadaan kita, biarkan aku menelan semua sakitku, aku nyaman dengan mereka, meskipun tidak akan ada yang pernah bisa mengantikkan pelukan hangatmu”

Chaeri mulai membasahi pipinya dengan buliran air dari sudut anakan matanya, berhadapan dengan Yunho terlalu sulit tanpa isakan yang lepas dari bibir Chaeri. setelah pernikahan tak terduga kedua orang tua mereka, dan mengetahui kenyataan bahwa ayah Yunho juga ayah kandungnya.

“maaf, aku hanya terlalu khawatir denganmu”

Dada Chaeri semakin sesak, sakit, dan berat. Kedaan yang sama juga dirasakan Yunho, kepala pria itu juga semakin memberat.

“berhenti memperlakukanku seperti ini, tolong hilangkan semua kebiasaanmu, berhenti memperhatikanku, berhenti membututiku, berhenti memata – matai para lelakiku,  aku akan baik – baik saja dan akan lebih baik jika kau meninggalkanku”

CKITTT!!!

Yunho menginjak pedal rem cepat, mebanting setir ke pinggiran jalan, dirangkumnya wajah Chaeri, lalu melumat lembut bibir gadis itu, Chaeri berusaha memberontak, tangannya memukuli dada bidang Yunho, meskipun lidahnya juga terus mengejar lidah Yunho, Chaeri tidak mampu menolak, tapi harus menolak. tidak! Mereka tidak lagi boleh begini, Chaeri bukan lagi kekasih Yunho, Chaeri ADIK TIRI Yunho!

Tapi Jung Yunho bukan tipe lelaki yang menyerah dengan mudah, bibir pemuda itu terus berusaha menyapu lipatan bibir Chaeri, menelusupkan lidahnya diantara rongga mulut gadisnya. Akal sudah tidak lagi menguasai pikiran Yunho, Chaeri perlu tahu, Yunho masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari lelaki itu.

Chaeri terus terisak, tak lagi mampu menahan perasaanya sendiri, kalut, tanpa sadar digigitnya bibir Yunho, sontak ciuman panas mereka terlepas. jemari Chaeri segera membuka pintu mobil, berlari sekuat tenaga menjauhi Porsche hitam Yunho, dia sudah muak terlihat lemah, rapuh dan konyol di hadapan Yunho.

Chaeri tidak peduli lagi langkahnya tersaruk, tak peduli lagi harus berapa kali terjatuh, rasa nyeri di lututnya tidak seberapa dibanding sayatan luka baru hatinya. Yang ada dipikiran gadis itu hanya menjauh, sejauh mungkin dari Jung Yunho.

Lelaki yang tak pernah mati di hati Chaeri, meskipun tak mungkin teraih kembali.

Ayunan langkah kaki Chaeri semakin cepat, matanya tidak berfokus pada apapun, hingga raganya terbentur sesuatu, yang terakhir terdengar di gendang timapaninya hanya suara berat seorang lelaki,

“Im Chaeri!, gwenchana? Apa yang terjadi padamu? YA! Im Chaeri!”

Chaeri sempat memulaskan senyum tenang, menatap si pemilik suara, sebelum matanya tertutup, tak sadarkan diri.

=========================================================================

[Next Week : Coffeeholic, Zhang Yixing]

[Himchan Apartement, Chaeri after a Long Run from Yunho]

“Kim Himchan-sshi, aku bersedia menerima tawaranmu, dengan satu syarat..”

“apa?”

“jadilah kekasihku, bantu aku terlepas dari delapan lelaki itu, lalu menikah denganku”

“”

=========================================================================

Iash… akhirnya selese.. maav ya uri reader-nim fanfic ini terpaksa tertunda karena harus menyesuaikan beberapa plot yang belum terbangun secara sempurna..

But..

Please.. RCL and please, gimme a critic, I am beginner, who want to be better ^^

Gomapta ^^

=========================================================================

Iklan

9 pemikiran pada “[The Alter Ego] 1st : Rebellious Fate

  1. Laaahhh…
    Kok radak nyut2an gini ati gue 😭😭😭
    Duh…
    Semua hal kan pasti ada sebab-akibat.
    Lah. Kalo Imcha kek begitu kan pasti ada si “sebab”.
    And everyone know. Who is……
    Yeah “sebab”
    Gimana kaga Gila.. wajar sih Imcha Gila.
    Tapi sebenernya itu cuman pelarian aja. Ah. Mbohlah. Meski gila. Imcha beruntung. Dikelilingi cogan. Njiiirr…. owe mau dongzzz..ㅋㅋㅋ XD

  2. Ping balik: Rekomedasi Fanfiction, Author and Orific by Tara | Love, Life and Write

  3. aku baru pertama kali baca fanfict mu chingu . chaeri sangat menghawatirkan, tapi ceritanya daebak banget! bisa buat reader nya masuk ke emosi yg ada di dalem cerita, keep it up and fighting! 😀

  4. Ping balik: [The Alter Ego] 2nd Coffeeholic Zhang Yixing | aishitaWorld

  5. Ping balik: [The Alter Ego] 2nd coffeeholic, Zhang Yixing | FFindo

  6. Ping balik: Library | aishitaWorld

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s