The Day Before

Embedded image permalink

TITLE         : The Day Before

AUTHOR     : Aishita Kim

GENRE        : Romance,Angst

LEGTH          : Drabble

MAIN CAST :

  • Zhang Yixing / Lay EXO
  • Jung Yunho DBSK
  • Im Chaeri (OC)

RATING                  : PG 17

 

DISCLAIMER         : Zhang Yixing life in his world, Jung Yunho in His mind, and  Chaeri life in their’s life. So please enjoy ^^

Author Note          :

Eheeeehehehehhe..

Aishita is back, mianhae.. aku jadi bikin cerita seperti ini, karena cinta terlarang benar – benar sulit untuk dimengerti. Well… saya tahu Yixing tidak seperti ini, tapi dia dimata saya, benar – benar terlihat rapuh dan kelabu.

Please, lest enjoy Uri Yixing 🙂

And Dont Forget RCL Juseyoooo ~aingg..

 

========================================================================

Chaeri menelisik wajah lelaki rapuh dihadapannya dengan jilatan kedua bola matanya. Pandangan wanita itu hanya terpaku pada  ekspresi tak terbaca milik si lelaki. Dingin, keras, datar, tak terbaca. Baru saja Chaeri mengatakan maksudnya bertemu dengan lelaki dingin ini, Chaeri ingin mengakhiri ikatan diantara mereka yang salah, jelas Chaeri ingin mengurai simpul tanpa batas dirinya dan lelaki di hadapannya, tidak lagi mengganggu harinya dengan Jung Yunho, Pria pertama yang sudah sah di bawah payung katredal untuk memonopoli perasaan dan tubuh Im Chaeri.

 

Si Lelaki yang tidak mengeluarkan setetespun air bening dari sudut indra yang mampu memvisualisasi keindahan dunia. Lelaki berwajah sendu yang harinya juga tak kalah abu – abu. Hanya menghela nafas sejenak, tidak ada yang berubah dari raut wajahnya, masih sendu,  Apa yang tercermin dari lubuk hatinya tidak pernah bisa terbaca Chaeri, kecuali saat mereka berdua beradu di atas peraduan dilapisi hangatnya selimut tebal di akhir pekan.

 

 

“kau tidak mencintaiku?”

 

Chaeri terpaksa menelan ludahnya sendiri, hidup satu atap hampir selama setahun di setiap akhir pekan dengan Yixing, sama sekali tidak membantu Chaeri mendapatkan kemampuan membaca pikiran lelakinya.

 

Bagi Chaeri, dunia Yixing memang absurd, Yixing seperti tertelan dalam galaksi tanpa batas. Retasan jiwanya hanya terlihat datar, sayu, lalu layu. Dari mata lelaki tentang Estetika  kemolekan dunia yang biasa Chaeri lihat dari sapuan bening retina lelaki kebanyakan, Yixing tidak mempunyai itu, tatapan kosong, pasrah dan hampa yang selalu didapati Chaeri ketika menarik kepala Yixing untuk mencium rekahan diantara hidung dan dagunya.

 

“Aku mencintaimu, untuk sebuah alasan yang tidak aku mengerti, kau sudah menjadi nafasku, aku jatuh hati padamu, Im Chaeri, meskipun hubungan kita hanya sebatas teman di atas ranjang”

 

Chaeri mencelos, telingganya masih normal dan tidak ada satupun benda penghalang yang menyumbatnya. Mata Chaeri menelisik lurus – lurus ke dalam legam iris Yixing. Ini mungkin hanya perasaanya, tapi ada sesuatu yang mulai hidup dari pantulan yang tercitra jelas di hadapan Chaeri. sesuatu yang panas dan membara, seperti kecemburuan yang tersirat.

 

“bercerailah dari Jung Yunho, aku mau anakku” tangan Yixing bergerak meraih jemari Chaeri, lalu menyimpannya dalam genggaman “tetap berada bersamaku dengan kau dalam masa depanku”

 

Giliran mata Chaeri yang membasah, dia diperlakukan seperti ini dua kali, dengan lelaki yang berbeda, semalam, Yunho merayakan kehamilan Chaeri dengan euphoria tinggi, suaminya itu nampak amat sangat gembira dengan kehadiran nyawa kecil di rahim Chaeri, meskipun Yunho tahu, anak itu bukan anaknya, tapi anak hasil hubungan Chaeri dengan Yixing. Karena sampai kapanpun, Yunho tidak akan pernah berhasil membuat perut Chaeri membulat, Yunho lemah, dan Yixing di hadirkan Yunho dalam rumah tangga mereka sebagai bank sperma.

 

Yunho tidak sembarang memilih orang, Yixing terpilih setelah kriteria tidak masuk akal yang dibuat Yunho terpenuhi oleh lelaki itu. Yixing yang dingin, tidak mengenal apa itu cinta karena perasaanya sudah mati, ditambah dengan dunia kelabu di dalamnya. Diyakini Yunho akan membendung rasa cinta yang akan muncul pada diri Yixing.

 

Tapi sayangnya, Jung Yunho keliru..

 

“Yixing-aah”

 

“aku tidak menerima penolakan, kau harus bersamaku, aku tidak kalah mapan dengan Jung Yunho, mungkin dimatamu, aku hanya lelaki yang hidup dari uangnya, tapi yakinlah, aku mampu menghidupimu dan anak kita kelak”

 

“perasaanku mengatakan ini salah semenjak awal”

 

Chaeri membiarkan matanya tergenang air, dia juga tidak mengerti kenapa hatinya sakit sekali, ada perasaan yang menuntutnya lebih saat Yixing meperlakukannya seperti ini, rasa ingin memiliki Yixing secara utuh, ada kebutuhan hidup dari menghirup udara yang Yixing berikan saat mereka menyatu di malam – malam kelabu.

 

Perasaan menuntut yang tidak lagi dia dapatkan ketika Yunho menyentuhnya. Chaeri tahu ini menyalahi aturan permainan yang mereka bertiga sepakati. Tapi dia merasa nyaman saat terjebak dalam kesunyian dunia Yixing. Dunia kelabu yang sama sekali tidak menarik jika dibandingkan dengan warna pelangi di hari – hari yang dia lalui bersama Yunho, sepuluh tahun lamanya.

 

“larilah bersamaku, kita ke China, dan memulai hidup yang baru disana”

 

Yixing semakin menggengam tangan Chaeri erat, dan gerakan kepala Chaeri mengakhiri tanya Yixing. Untuk pertama kalinya, langit di luar sana terasa lebih berwarna untuk Yixing. Senyum terkembang dari bibir lelaki itu, di ikuti tarikan kecil menyeret lengan Chaeri, di akhiri dengan kecupan manis, awal dari hari mereka nanti.

 

=====================================END====================================

Iklan

4 pemikiran pada “The Day Before

  1. Malem, Kak. Terima kasih ya sudah memperbolehkan saya buat mereview ceritanya. Um, membaca ini saya jadi teringat karya klasik Leo Tolstoy haha 🙂 ceritanya ternyata tak sederhana panjang fanficnya ya. Saya suka dengan cara kakak mengawali ceritanya, terlebih dengan analogi memonopoli hati itu. Ya, pas deh dengan cerita ini, cerita yang idenya klise dan klasik, tapi diperteguh dengan permainan diksi, juga analogi tentang bagaimana kakak menerjemahkan sosok Yixing ke dalam seorang pria bersosok abu-abu.

    Overall, saya suka dengan cerita dan temanya. Ada keunikan tersendiri walaupun memang sering diadaptasi juga ke berbagai macam repertoar. Tapi, dengan length yang termasuk pendek, ide kompleks itu bisa terbaca jelas oleh saya, sebagai seorang pembaca.

    Um, tapi mungkin ada beberapa saran dari saya, seperti di awal cerita, tentang sesuatu yang direpetitif, yaitu kata “tak terbaca” di dua kalimat ini:

    Pandangan wanita itu hanya terpaku pada ekspresi tak terbaca milik si lelaki. Dingin, keras, datar, tak terbaca.

    Mungkin bisa dihilangkan salah satu. Memang tidak salah sih, tapi dalam mengomunikasikan sesuatu alangkah baiknya kalau sebuah kalimat itu memiliki unsur efektivitas, ya itu tidak mengulang-ulang kata, sehingga yang baca juga bisa mendapatkan informasi lain tentang sosok Im Chaeri.

    Lalu, tentang pemilihan beberapa diksi, yang paling kontras agak sedikit kurang sreg di hati saya adalah “jilatan kedua bola matanya”. “Jilatan” sendiri sering dipakai dalam konteks yang membara, menggebu-gebu dan tidak sabar, seperti api, asmara, dsb. Tapi, di sini, khususnya dalam paragraf awal, saya menangkap kesan tentang Im Chaeri yang merasa bersalah dengan hubungan terselubungnya bersama Yixing, jadi saya rasa, “jilatan” rasanya kurang pas. Bagaimana dengan: “Chaeri menelisik wajah lelaki rapuh di hadapannya dengan kedua bola matanya” saja? Terkesan tidak berbelit, tapi mengundang tanya, dan saya telisik ke kalimat selanjutnya, kakak pun sudah membongkar status “tatapan kedua bola mata Chaeri” dengan baik, dengan berbagai dilema dan diorama di hatinya.

    Dan terakhir untuk kalimat ini: Dari mata lelaki tentang Estetika kemolekan dunia yang biasa Chaeri lihat dari sapuan bening retina lelaki kebanyakan, Yixing tidak mempunyai itu, …

    Saya merasa agak sedikit ganjil dengan “dari mata lelaki tentang …”, itu apa salah ketik atau bagaimana ya? Agak sedikit kurang efektif jika diletakkan di sana. Alternatif dari saya: Dari mata lelaki itu, Chaeri tidak melihat estetika kemolekan dunia yang memancar dari kebanyakan pria. Yixing tidak mempunyai itu.

    Oke, koreksi saya mengenai kalimat dan sintaksnya sih segitu saja, Kak. Tapi ada beberapa kata yang salah ketik dan salah penggunakan kapitalisasi. Mungkin kakak bisa membaca ulang. Ya, ini tips dari saya sih, kadang author ingin lekas-lekas mengakhiri cerita, akibatnya ada dua: ending yang terburu-buru dan susunan/eyd yang agak sedikit kurang rapi. Dari cerita kakak, saya rasa, cerita kakak tidak punya ending yang terburu-buru, saya malah suka dengan endingnya, hanya mungkin perlu dibaca ulang untuk mengoreksi salah ketik 🙂

    Good story.
    Keep writing ya, Kak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s