Some Where We are Belong

UPLOAD

Somewhere We are Belong

Lee Donghae x Hwang Mirae x Kim Junmyeon

“Lets decide, me or your pathetic world” – Mirae to Donghae-

=========================================================================

Suasana pagi ini tidak pernah berbeda dengan ratusan pagi yang lain, Kepulan beraroma robusta menguar kuat dari dua cangkir di atas mini bar, ditambah dua piring pancake hangat yang mengundang selera, hanya suara emas Adele mengalunkan love song dari home theater di sudut ruang makan, mengisi kekosongan detik, diantara dua pasang mata berlawanan jenis, yang enggan saling menatap.

Hwang Mirae sangat terlihat gusar, berkali-kali ia mengetukkan ujung sepatunya dengan parquet dapur. Sementara Lee Donghae sibuk mengiris pancake di piringnya, menambahkan topping strawberry banyak-banyak, lalu mengunyah dalam damai. seolah tak merasakan geliat resah dalam setiap gerakan wanita yang duduk berdampingan dengannya.

          “Lets breakup

Ucapan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Mirae, netranya terus menatap tajam pada pancake madu buatannya sendiri, tak mampu beradu pandang dengan manik kokoa sendu Lee Donghae, sang tunangan. Mirae sudah mengatakan dua kata itu hampir setiap pagi, saat Donghae bisa menikmati secangkir espresso ditemani pancake buatannya, sarapan favorit si captain penerbang, saat ia tidak berada di atas udara, membawa beratus nyawa dalam perut Boeing maupun Airbus milik Korean Airlines.

Jemari Donghae bergerak meraih cangkir espressonya, Lelaki itu tidak terkejut sama sekali dengan ucapan Mirae, permintaan pagi klise yang selalu sama, setiap ia memulai hari dan membuka mata dengan tangan yang melingkari tubuh mungil wanita yang telah mengekspansi hatinya lima tahun lebih. tentu setelah semalam dibuai mimpi indah dan terlelap dalam kedamaian ranjang apartemennya.

            “Why?”

Donghae hanya cukup merapal satu kalimat tanya. seperti biasanya. Karena alasan yang akan Mirae jelaskan juga pasti akan berujung pada hal yang sama.

          “Aku tidak tahan lagi Oppa, melihatmu di udara tanpa ada yang menjamin aku akan melihatmu keesokan harinya”

Donghae mengembangkan senyum, menatap manik emerlad Mirae yang kini penuh kekhawatiran. jemari Lelaki itu menyugar surai cokelat madu Mirae, mengeleminasi jarak diantara mereka, menarik dagu Mirae, lalu memberikan kecupan manis rekahan di bawah hidung tunangannya.

         “Aku penerbang profesional sayang, 22.000 jam sudah kuhabiskan di udara, lagipula rute yang ku ambil hanya sekitaran Asia Timur, tidak sampai afrika atau amerika lagi”

       “Aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa khawatirku, kau tahu Oppa, udara bukan daratan dimana akan mudah memberikanmu pertolongan semisal terjadi kecelakaan”

       “Masih ada laut, hei.. kau tahu kan, laut itu sama lembutnya dengan selimut, aku akan mendaratkan pesawatku dengan selamat jika terjadi emergency situation

Mirae menghembuskan nafasnya kasar, berdebat dengan Lee Donghae benar-benar bukan opsi baik di pagi hari, moodnya akan seharian kacau, lalu berakhir dengan curhat panjang di ruangan psikiater Himchan. Ia tampaknya harus menelan lagi beberapa butir pil penenang, menjadi tunangan Donghae sudah membuatnya akrab dengan axienty disorder, kadang tingkat kecemasan Mirae melebihi batas, ketika tak sengaja menonton berita dengan headline news berbau kecelakan udara. Meskipun bukan pesawat Donghae yang gagal landing, atapun crush di udara, hingga kehilangan kontak dengan menara pengawas induk.

                           “I love You, Lee, Really love you, please just find a new job

                 “I love you too, Baby, tapi aku akan bekerja seperti apa? aku bukan pakar hukum seperti Lee Hyukjae, aku tidak pandai bercakap seperti Kim Heechul, jadi aku tak mungkin berdagang dengan sukses, lagipula hampir semua lelaki di keluargaku menjadi Pilot, Udara sudah seperti rumah keduaku, Baby

Mirae menghela nafas panjang, salahnya sendiri jatuh cinta pada lelaki yang hampir semua anggota keluarga prianya berprofesi sebagai penerbang, ayah Donghae seorang mantan penerbang jet tempur Korea Selatan, sementara Sehun, adik lelaki Donghae juga memilih profesi sama dengan kakaknya, sebagai pilot penerbangan komersil.

                “perusahaan ayahmu juga bergerak di bidang aviasi, kau bisa jadi manager atau apalah asal kau mempunyai jam kerja yang jelas, dan kelak saat kita sudah menikah nanti, setiap malam aku dapat memelukmu, bukan hanya bayangan semu, aku sungguh menginginkan kehidupan normal, Oppa. aku ingin melihatmu setiap hari, bukan hanya beberapa hari dalam seminggu”

             “sebagai pekerja delapan jam yang berkutat dengan ratusan dokumen jual beli pesawat dan spare part-nya, menghadiri rapat ini itu dalam sehari, berangkat pagi buta lalu pulang petang sesuai jadwal? oh tidak Baby, im not a morning person

                 “so lets breakup, aku tidak akan pernah menang melawan burung besi kesayanganmu itu, aku lelah”

Pekik Mirae histeris, buliran air amata mulai menderas dari kedua netranya, cukup sudah dia lima tahun bersabar dalam kecemasan akut, cukup sudah ia menghabiskan sisa jam malamnya merapal doa agar Donghae selamat dalam perjalanan. Ia lelah, sangat teramat lelah, ia berhubungan serius dengan Donghae tidak untuk memacu adrenalin setiap harinya.

Mirae bukan wanita yang tegar dan mampu berdiri di kakinya sendiri ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya, jika suatu hari nanti terjadi hal yang tidak ia inginkan pada Donghae. Sungguh, dia mencintai Donghae melebihi separuh nyawanya sendiri, tapi profesi lelaki itu membuatnya akan selalu tegang dan kalut jika mendengar kecelakaan penerbangan atau hal-hal buruk lainnya dalam berita malam ketika Donghae sedang bertugas di udara.

Donghae hanya mampu meraih bahu gadisnya, menenggelamkannya dalam pelukan hangat. Donghae tahu benar Mirae sudah mencapai batas maksimalnya, gadisnya tidak akan pernah menangis seberat apapun masalah yang mereka hadapi.

You need a rest? Right, lets break up then

Mirae menarik wajahnya dari dekapan hangat Donghae, memberanikan diri menatap kokoa sendu Donghae, yang selalu menjadi titik kelemahannya. hingga mereka melupakan kesepakatan untuk berpisah, tapi kali ini manik itu bersinar lebih cerah, plus satu kembangan senyum menghiasi wajah sang penerbang, senyum yang pahit, tapi tanpa beban.

             “kau selalu bilang akan mengubah keputusanmu ketika bertukar pandang dengan mataku, dan maaf, aku memang memanfaatkan kelemahanmu itu, Mirae-ya, menganggap kau akan baik-baik saja, padahal aku jelas-jelas melihat kau menyembunyikan botol pil penenang di bawah bantal tidurmu, aku egois, I’ll set you free, aku tahu kau sudah mencapai batasmu, so, lets breakup

Donghae menambahkan kalimatnya, mata lelaki itu juga ikut membasah, dan hingga matahari mengelincir ke barat, buliran air dari kedua netra mereka tidak mengering.

o0o

kidung pernikahan menggema di setiap sudut gereja, raga Donghae yang berbalut tuxedo hitam pekat lengkap dengan dasi kupu-kupu favorit Mirae, berdiri tegap di hadapan pintu mempelai wanita.

Lelaki itu mengetuk singkat pintu berpelitur coklat perlahan, disambut ucapan persilahkan masuk dari dalam, Donghae segera memutar kenop, lalu merapal langkah setenang mungkin.

Senyum lelaki itu berkembang, ketika netranya menangkap pantulan dewi yang turun dari Khayangan, Mirae benar-benar cantik dalam balutan gaun putihnya, tiara berlian terpasang begitu anggun di atas tatan rambutnya. Hari ini Hwang Mirae-nya benar-benar berbeda.

Youre so beautiful, are you ready

Donghae membentuk tangannya menyerupai segitiga, lalu membiarkan Mirae mengaitkan lengan mungilnya. mulai merapal langkah perlahan menuju altar. Dentingan lonceng gereja seketika menyambut mereka, pintu katedralpun sudah terbuka lebar.

Mirae tak mampu lagi menyembunyikan perasaanya, ia menggembangkan senyum, ketika mendapati lelaki pilihannya, Kim Junmyeon tersenyum tak kalah lebar dari altar. Donghae hanya mampu menggulum senyum, mulai besok, Hwang Mirae bukan lagi miliknya yang mutlak.

Be a good Wife

Bisik Donghae ketika menyerahkan tangan Mirae untuk disambut Junmyeon di altar. Mirae mengiyakan seraya mengucap lirih terima kasih, Donghae lagi-lagi hanya melempar senyum, ia lalu berbalik langkah, dan menempati kursi kosong disamping Hwang Zitao, adik lelaki Mirae.

“Hyung, terima kasih”

Bisikan Zitao hanya diangguki oleh Donghae, ia terus-menerus tersenyum palsu sepanjang pemberkatan. Hari ini adalah hari yang tak pernah akan ia lupakan sepanjang umurnya, melepas seseorang yang telah ia pertahankan dua tahun, setelah mereka berpisah. ternyata tidak semudah apa yang dia ucapkan.

Donghae terus-menerus mensugesti dirinya jika dia tidak merasakan sakit sedikitpun, ia bahkan menawarkan menjadi pendamping calon mempelai wanita, mengingat ayah Mirae berpulang sebulan yang lalu. Sungguh ia tak sanggup melihat Mirae begitu terpukul saat itu.

Donghae lari seperti pengecut. Lebih memilih memandang kosong angkasa, seraya membiarkan memori – memori perpisahannya dengan Mirae kembali mengawang, masih terbayang jelas di benak Donghae ketika mengantar Mirae hingga perbatasan kota, mengembalikan gadis itu pada keluarganya, sekaligus mengakhiri simbolis ikatan di jari keempat mereka. Masih terbayang jelas, bagaimana cara Mirae memeluknya hari itu, isakan wanita yang kini sedang dikecup bibirnya oleh sang suami, masih terngiang di timpani Donghae.

Di penghujung desember ini semua harus berakhir, usahanya selama dua tahun penuh untuk meyakinkan Mirae agar kembali padanya, berbuah Nihil, wanitanya lebih memilih Kim Junmyeon, teman masa kecilnya sebagai suami. Kim Junmyeon lelaki yang selama ini Mirae cari, yang pulang setiap petang, yang mampu memeluknya ketika ketakutan. Bukan seperti dia yang melahirkan kecemasan akut.

Donghae akhirnya melepas, meskipun ia tahu, harinya akan kacau mulai tahun depan.

o0o

Iklan

Satu pemikiran pada “Some Where We are Belong

  1. Ping balik: Library | aishitaWorld

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s