[6TH] THE NEIGHBOUR

the neighbour

THE NEIGHBOUR

Screenplays by Ohsehunoona x october_0718

Oh Sehun | Zhang Yixing

6th Chapter : a Memento of Begining

PREVIOUS CHAP [1ST] [2ND] [3RD] [4TH] [5TH]

================================================================

Chaeri baru saja akan menyuapkan sesendok bingsu bertoping mangga segar kemulutnya, ketika telepon genggamnya berdering nyaring, gadis itu segera meraih si munggil dari nakas kecil di samping sofa ruang kerjanya. Huh! Menganggu quality time ibu hamil saja!

Abeoji, Calling…

Chaeri menelan ludahnya kasar, ya Tuhan! Ayahnya hanya akan menelepon jika lelaki itu sedang berada di salah satu hotel mewah di jantung Seoul, sudah menjadi kebiasaannya, setahun sekali sang Ayah turun dari singasananya di London, untuk mengunjungi putri tunggalnya di Korea Selatan, seminggu penuh.

Chaeri semakin gugup ketika ponselnya tidak berhenti berdering, Dia benar-benar belum siap bertemu ayahnya dengan perut yang kini semakin terlihat membesar, dan yeah, ukuran badan yang agak sedikit naik, karena kehamilannya.

“haaal.. lo – Abeoji..”

“hallo sayang, kenapa dengan suaramu? Kau sakit?”

Aku tidak sakit Abeoji, hanya Hamil inner Chaeri menyentak, ingin rasanya dia berteriak seperti itu pada ayahnya, lalu dipeluk, dan BAM! Semua beban hidupnya hilang semua.

“tiii.. dak, aku baik-baik saa.. jaa”

Sial gugupnya semakin menjadi.

“Abeoji kira kenapa, oh iya sayangku, ke Sheraton Seoul bisa tidak? kita makan siang bersama? Abeoji ingin bertemu dengan putri Abeoji yang cantik dan bawa tunanganmu juga ya, Abeoji tunggu tiga puluh menit lagi, Byee sayang..”

TUNANGAN! Yang benar saja? Apa ayahnya sudah lupa kalau dia tidak jadi menikahi Kyuhyun? Bukankah beliau sendiri yang mengiyakan keputusan Chaeri itu, ketika ia dan Kyuhyun menghadap ayahnya ke London dua bulan lalu?

Pip!

Sambungan telepon dimatikan oleh ayahnya. Sebelum Chaeri sempat mengigatkan Ayahnya soal pertunangan yang batal.

Tubuh Chaeri melemas, 30 menit lagi ia akan bertemu dengan sang Ayah, belum sempat ia memikirkan bagaimana cara memberitahu Ayahnya tentang kehamilan ini, dan sekarang Ayahnya meminta bertemu dengan Chaeri. Duh! Rasanya seperti berangkat perang tanpa senjata. Perlahan tangan Chaeri menekan interkom, tak lama suara cempreng Lee Sungjong, sekertarisnya menyapa :

“ne Nunna, jongie disini”

“tolong antarkan aku ke Sheraton Seoul sekarang juga, Jongie”

“ne~”

=========================================================================

“Mel, ayo kita turun? Kenapa kau malah melamun?” suara berat Minho menyadarkan Mel dari lamunannya. Entah kenapa belakangan ini melamun menjadi salah satu hobi barunya.

“Maaf, semalam aku kurang tidur, jadi—“ Gadis pecinta warna pink itu mencoba beralasan.

“Ah—apa pekerjaan yang kuberikan padamu terlalu banyak?” tanya Minho khawatir. Namja tampan itu mengulurkan tangannya untuk membantu Mel turun dari mobilnya.

Mel menerima uluran tangan Minho. Gadis itu mencoba menunjukkan senyum terbaiknya. “Tidak, tidak. Bukan begitu. Lagipula kan kau bossku, sudah sepantasnya kan memberiku banyak tugas.”

Minho menatap Mel prihatin. Semenjak kejadian tempo hari di rumah sakit, mereka—ia dan Mel—memang kembali dekat, sama seperti sebelum sosok aktor Oh datang. Tapi, gadis itu juga banyak berubah. Semakin hari kebiasaan melamun dan bengongnya menjadi semakin parah. Minho juga sudah sangat jarang—bahkan hampir tak pernah—melihat senyum Mel yang tulus seperti dulu. Mel bukanlah Melita Kim yang Minho kenal dulu.

“Hei, kenapa melihatku begitu? Aku tahu aku cantik,” Mel mencoba berkelakar.

“Iya, kau memang cantik, nyonya Choi.”

Mel memukul lengan Minho pelan. Dan hanya dibalas tawa renyah oleh sang Choi. Lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran yang biasa mereka kunjungi—sebelum mereka putus dulu.

Sesekali Mel melirik Minho, yang tampak begitu bahagia disampingnya. Tapi entah kenapa hatinya sama sekali tidak bisa merasa sebahagia dulu ketika mereka masih bersama. Ia kesal pada dirinya sendiri. Kenapa belakangan ini ia masih saja memikirkan si brengsek itu? Mel menepuk kepalanya sendiri frustasi.

“ADUH!” Suara seorang anak kecil membuyarkan lamunan Mel tentang seseorang yang sebenarnya sama sekali tak pantas menghuni satu persen pun dari kuota otaknya itu.

Rupanya Mel tak sengaja menabrak seorang bocah kecil hingga terjatuh, dan sesuatu yang tengah dibawa oleh bocah lelaki itu tumpah berceceran. Minho yang berjalan tak jauh didepannya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kecerobohan Mel.

Mel memberi isyarat kepada Minho untuk menuju ke meja yang telah mereka pesan lebih dulu.

“Eh adik kecil, kau tak apa?” Mel berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan sang anak.

Anak kecil itu mempoutkan bibirnya. “Nuna jahat, lihat Chocoemon kesukaanku tumpah semua!” Sepertinya anak lelaki itu hendak menangis.

Mel memungut sebuah kotak yang familiar untuknya—karena gambar Doraemon khasnya. Ini kan minuman kesukaan Sehun? Mel menghela nafas. Tuh kan, lagi-lagi ia memikiran bocah itu.

 

“Nunaaaa, Thehun tampan datang.”

 

Seperti biasa pagi itu, bocah mesum paling menyebalkan—menurut Mel—itu kembali menyantroni dapur Mel seperti pagi-pagi sebelumnya.

          “Hm,” Mel hanya menjawab dengan gumaman karena gadis itu tengah sibuk menyantap sarapannya.

 

          Sehun mempoutkan bibir tipisnya, kesal karena diabaikan. Namja dengan kulit putih diatas rata-rata itu pun mendudukkan bokong seksi kebanggaannya disamping Mel.

 

          “Nuna tahu tidak thuthu yang Thehun thuka thelain thuthu milik nuna?”

 

          Mel yang sedang meminum susunya nyaris tersedak mendengar ocehan Sehun. “HEH! Jangan bicara macam-macam!”

 

          “Bicara macam-macam apa? Aku kan hanya bertanya, nuna,” jawab Sehun sok polos.

 

          Mel hanya mendengus sebal. Berusaha melanjutkan makannya, mengabaikan Sehun yang tengah mengambil sesuatu dari kantungnya.

 

          “Taraaaa! Ini thuthu favorit Thehun! Uhm—kedua setelah milik nuna sih,” pamer Sehun sumringah sambil memamerkan sekotak kecil susu cokelat dengan gambar Doraemon pada bungkusnya.

 

          “Lalu aku harus apa? Sudahlah aku sedang sarapan jangan mengganggu!”

 

          “Ish, nuna coba dulu, aku kan membawakannya untukmu nuna, ayo coba nuna pasti suka.”

 

          “Ck, baiklah bocah cadel cerewet, kemarikan.” Mel akhirnya mengalah dan mencoba sekotak kecil susu yang dibawakan Sehun. Seteguk, dua teguk, akhirnya susu rasa cokelat itu semuanya masuk ke perut Mel.

 

          “Katanya tadi tidak mau, tapi nyatanya dihabiskan,” cibir Sehun.

 

          “Kau kan tadi yang menyuruhku meminumnya, ish!”

 

          “Baiklah, karena susu Thehun habis, aku mau minta susu yang lain,” bisik Sehun dengan nada yang Mel tahu betul hendak mengarah kemana.

 

          Tanpa menunggu persetujuan Mel, Sehun menyingkap kaus yang dipakai oleh gadis yang berusia tiga tahun lebih tua darinya itu. “Wah nuna, kau tidak memakai bra? Ternyata kau memang sudah siap ya?”

          Mel hanya merona mendengar perkataan Sehun. Semenjak Sehun memulai kebiasannya mengajaknya ‘bermain’ setiap pagi ia memang jadi malas memakai bra. Karena seringkali bra-nya yang mahal berakhir tergolek menyedihkan dilantai dalam keadaan sobek akibat Sehun yang tidak sabaran.

 

          “Ughh—Sehun—“ Mel mulai meracau ketika Sehun mulai kegiatan menyusunya. Hisapan Sehun yang terkesan kasar dan tergesa-gesa selalu membuat bagian bawahnya begitu cepat basah.

 

          “Ahh—nuna—“ Giliran Sehun yang mendesah karena tangan Mel yang membelai kejantanannya dari balik celana pendek yang ia kenakan. Tangan Mel mulai berani menyusup ke dalam celana Sehun.

 

          “Nuna—kau benar-benar tidak sabaran—Ahh nuna!”

 

 

 

“NUNAAAA! Helaaww—“

Sosok Sehun dalam bayangan Mel berganti menjadi sesosok bocah kecil, yang tengah mengibas-ngibaskan tangan kecilnya didepan wajah Mel dengan wajah datarnya.

“E-eh?”

“Ish, nuna malah melamun, bagaimana sih!” gerutu bocah kecil itu sambil melipat tangan didepan dadanya.

Mel menggaruk tengkuknya malu, wajahnya pasti semerah tomat busuk sekarang. Bagaimana bisa ia membayangkan hal-hal seperti itu? Ugh sial!

“Pokoknya nuna harus ganti rugi!”

“Ish kau ini, kecil-kecil sudah tahu ganti rugi. Baikah, nuna belikan susu baru—err—maksudnya Chocoemon yang baru.”

“Yaaayy!”

“Tapi kau bilang dulu pada orang tuamu kalau kau akan pergi bersama nuna ke supermarket di depan.”

Si bocah mengangguk imut. “Tapi aku meminta dua kali lipat ya. Dua Chocoemon.”

“Ish baiklah-baiklah. Oh iya, siapa namamu adik kecil?”

“Oh Hyunshik.”

“Oh?!”

Kenapa ada begitu banyak Oh didunia ini dan semuanya menyebalkan. Gerutu Mel dalam hati.

=========================================================================

Chaeri melangkah setengah malas, kini gadis itu sedang menapaki lobby Sheraton Seoul, menyeret langkah menuju salah satu ruang privat di restoran bintang lima milik Hotel itu, langkah Chaeri semakin memberat ketika mendapati sang Ayah melambaikan tangannya terlampau semangat. Meskipun berusia hampir kepala enam, Im Dong Gun semakin terlihat energik, Chaeri hanya balas melambai singkat, di samping ayahnya ada Junmyeon yang sedang menyesap santai jus buahnya, sementara di depan Junmyeon jelas sekali itu Heechul, terlihat dari rambut sebahunya yang di cat cokelat terang, hampir pirang. Tapi sosok lelaki di samping Heechul tidak Chaeri kenal sama sekali, tapi entah kenapa membuat jantungnya bertalu lebih kencang.

“oh, sayang, kau lama sekali”

Sambut Ayahnya santai, seraya meraih tubuh munggil Chaeri ke dalam pelukannya, Chaeri membalas pelukan hangat sang Ayah, lalu merajuk sedikit.

“Abeoji Bohong, katanya mau berkunjung saat natal, tapi sekarang sudah menjengukku, mana Eomma?”

“looh, tentu Abeoji harus datang lebih awal, anak gadis Abeoji mau menikah, masa Abeoji tidak datang, Eommamu sedang berada di di pesawat, ia baru saja menyelesaikan sedikit masalah di Milan”

Chaeri membeku seketika, anak gadisnya menikah? Hanya dia kan satu-satunya anak gadis Im Dong Gun? Tidak mungkin orang tua-nya mempunyai anak gadis yang lain lagi.

“eh? Ne?”

“jangan pura-pura tidak tahu begitu, kau terlalu asyik dengan Im Abeoji hingga melupakan tunangan tampanmu, kau terlalu jahat pada Yixingie, my princess”

sela Heechul cepat, membuat Chaeri refleks mengalihkan perhatiannya pada Heechul, mata segaris Chaeri segara melebar ketika mendapati Yixing tengah duduk manis di samping Heechul, memamerkan senyum berdimplenya. Lelaki China itu semakin tampan dengan setelan kemeja hitam semu kebiruan yang di gulung hingga sebatas siku, jangan lupakan rambut cepaknya yang berubah hitam legam dan disisir rapi dengan sedikit aksen sasakan tepat di atas dahinya, menambah kesan manly Yixing! Ya Tuhan! Kenapa Zhang Yixing bisa tampil setampan ini?

“sayang, kau tidak boleh lama-lama berdiri, ayo duduk, kasihan cucu Abeoji, nanti ikut capek”

“ha?”

Chaeri semakin Cengo, jadi ayahnya sudah tahu kehamilannya?

“sudah duduk dulu, abeoji tidak marah kok sayang, sungguh, kehamilanmu malah membuat Abeoji bahagia, akhirnya Abeoji akan jadi kakek”

dengan kikuk Chaeri duduk di hadapan Yixing, berdampingan dengan Ayahnya. Rasa canggung terus menerusan membuat setiap gerakan Chaeri semakin kaku, bukan karena dia tidak terbiasa makan dengan orang asing satu meja dengannya, tapi karena pandangan matanya yang tidak mau lepas sedikitpun dari Yixing, Chaeri merindukan lelaki itu, sangat rindu hingga nyaris menangis hanya karena mendengar suara Yixing saja. Berbagai pertanyaan ringan seputar Yixing seperti pertanyaan seputar pekerjaan, pendidikan, penghasilan, aset yang dimiliki, terus-menerus Ayah Chaeri lontarkan, tanpa terkesan menilai sedikitpun, meskipun semua orang tahu, si Ayah sedang menginterogasi calon menantunya, apakah sudah layak untuk menikahi sang putri.

“jadi bagaimana awalnya kalian bertemu, hingga Chaeri mantap memilihmu sebagai suami” seloroh Dong Gun setelah ia merasa puas dengan jawaban-jawaban Yixing.

“Kami teman sekampus dulu, Abeoji, sering terlibat di organisasi yang sama, dan mungkin karena Jodoh, kami akhirnya bertemu lagi dan menjalin kasih”

“oh, begitu, eh ini mungkin sedikit privat untuk kutanyakan, tapi kenapa uri Chaeri putus dengan dokter Cho, apa mungkin karena anakku sedang mengandung? Yixing-ah, Abeoji tidak marah, tapi apa masalah kalian dengan Kyuhyunie sudah selesai?”

“Tentu Abeoji, kami sudah menyelesaikannya dengan baik”

Tawa Dong Gun berderai, tawa penuh kelegaan, bagaimanapun juga ia tidak mau Chaeri-nya tersakiti, obrolan demi obrolan pun terlontar lebih santai, sesekali deraian tawa terdengar. Tapi tidak untuk Chaeri, gadis iut sibuk dengan pikirannya sendiri. Chaeri bahkan tidak menikmati atmosfir makan siang yang sangat hangat ini. Ia sibuk mengalihkan perasaanya sendiri, mencoba untuk tidak menangis dan menghambur memeluk Yixing. Sialan! Ia sekarang sepertinya ngidam dipeluk dan diciumi oleh ayah dari bayinya.

“sayang.. hei.. anak Abeoji? Kenapa diam eoh? Kau juga pucat sekali? Keringatmu juga berlebih, AC di ruangan ini kurasa berfungsi dengan baik”

“aniya.. Abeoji, mungkin aku hanya lelah”

Kilah Chaeri seraya memaksakan senyumnya. Junmyeon segera tanggap, dengan siagap ia langsung memeriksa denyut nadi Chaeri, sedetik kemudian dokter tampan itu tersenyum singkat, lalu mengelus puncak kepala Chaeri

“anak Appa mau minta apa? katakan Imcha sayang?”

Double sialan! Menjadi ayah pengganti selam dua bulan ternyata sudah membuat Junmyeon hafal tanda-tanda Chaeri mengidam. Chaeri sungguh tak tahan lagi, bibirnya mencebik, lolos bersama isakan yang ia tahan mati-matian. Yixing segera menepuk perlahan bahu Junmyeon, meminta akses untuk berbicara dengan Chaeri.

“katakan Baobei, anak kita minta apa?”

Tangis Chaeri pecah ketika tangan Yixing mengelus sayang telapak tangannya, rasa rindunya benar-benar tidak bisa ditahan lagi.

“aegi hiks.. minta.. hiks.. tidur.. hiks.. dipeluk Ayahnya”

“aduuh, ini masih siang sayang, tapi istirahatlah” – suara Ayah Chaeri, Im Dong Gun menginterupsi

“Xing-ah, tolong jaga uri ChaeChae ya, pastikan dia minum vitaminnya setelah bangun tidur, dan jangan lupa untuk mengantarnya pulang nanti, awas kalau tidak, aku mengawasimu Xing!” – Junmyeon ikut menambahi

“oh! Astaga! Ya! Zhang Yixing! cepat pesan kamar segera, atau aku benar-benar tidak tahan untuk tidak memukulmu, kau membuat Chaeri kecilku menangis! Sialan! ” –ini suara Heechul dengan nada sarkasme-nya

Yixing hanya tersenyum lalu merengkuh Chaeri kedalam pelukannya, Chaeri seperti terlena, ia berhenti menangis meskipun masih terisak. Rasa hangat benar-benar melingkupi hatinya saat ini.

=========================================================================

Sehun tengah membolak-balik majalah di tangannya dengan ekspresi bosan. Baru berada di rumah sakit satu minggu saja rasanya seperti setahun. Ia merindukan rumahnya, tempat tidurnya, dan—tetangganya? Sehun buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya. Hell No. Mel nuna pasti sedang sibuk dengan pacarnya itu, buat apa ia merindukan gadis itu?

“Ish, mana sih Hyunwoo hyung? Katanya ia akan menjengukku hari ini,” gerutu Sehun sebal.

“Ada apa Sehun-ah?” tiba-tiba saja kepala sang manager menyembul dari balik pintu.

“Ish, aku tidak memanggilmu!”

“Oh ya sudah—“

“Eh—tunggu dulu, apa hyungku belum kemari hari ini?” tanya Sehun saat sang manager hendak menutup pintu lagi.

“Kau melihatnya tidak?”

“Siapa?”

“Hyungmu.”

“Tidak.”

“Ya berarti belum.”

“Ish, bukan begitu! Maksudku mungkin saja dia datang ketika aku tertidur!”

“Oh—tak ada yang datang saat kau tertidur, hanya Irene tadi.”

“Ada apa namaku dibawa-bawa?” sela seorang yeoja berpakaian putih-putih khas rumah sakit.

Manager Sehun berdehem agak keras. “Sepertinya aku harus keluar. Sehun-ah jangan sampai kebablasan, kakimu masih sakit.”

Sehun hanya melotot pada managernya yang kemudian menutup pintu dari luar. Meninggalkannya berdua bersama Irene.

“Uhm—kau mau mandi?” tawar Irene, sambil meletakkan wadah berisi air dan handuk kecil yang dibawanya di meja sebelah tempat tidur Sehun.

“Hah?”

“Aku sudah membawakanmu air hangat, sini biar kubantu melepaskan bajumu dan membilas tubuhmu”

“Tidak, terima kasih. Badanku masih bersih, kemarin manager hyung membantuku mandi,” tolak Sehun ngeri.

“Kenapa sih? Dulu kan aku sudah biasa melihatmu telanjang, begitu pula sebaliknya. Lagipula sekarang statusku adalah perawat pribadimu,” kata Irene sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sehun sehingga hidung mereka sedikit lagi bersentuhan.

Sehun refleks memundurkan kepalanya. “Sudahlah, hubungan kita kan sudah lama berakhir, tidak usah diungkit lagi.”

“Apa gara-gara wanita itu?”

“Siapa?”

“Yang melihat kita berciuman tempo hari.”

Sehun memuat bola matanya. “Sudahlah, aku malas membahasnya.”

Irene hendak buka mulut membalas perkataan Sehun ketika ada seseorang mengetuk pintu.

“Maaf, apa aku mengganggu?” sebuah kepala menyembul dari balik pintu yang sedikit terbuka.

“Hyunwoo hyung!” teriak Sehun senang melihat kedatangan kakak satu-satunya itu. “Tentu saja tidak, ayo masuk!”

Sehun melempar pandangan mengusir pada Irene, kemudian yeoja itu keluar sambil sedikit menggerutu.

“Sehun uncle!” teriak seorang bocah di belakang Hyunwoo riang, menggandeng seorang wanita cantik yang menenteng satu keranjang buah.

“Ah—Hyunshik, HyeKyung nuna, kalian juga datang.”

“Maaf kami terlambat, tadi Hyunshik membuat kekacauan saat makan siang,” jelas HyeKyung.

“Ish, bukan Hyunshik yang salah, nuna itu yang menabrak Hyunshik, jadinya Chocoemon Hyungshik tumpah semua!’ jelas Hyunshik dengan gaya khas kanak-kanak yang lucu.

“Tapi kau tidak seharusnya meminta ganti rugi seperti itu, untung nunanya baik,” ibu Hyunshik menasehati sang anak. Hyunshik hanya memajukan bibir tipisnya.

“Bagaimana keadaanmu Sehun-ah? Sudah lebih baik? Maaf hyung baru sempat menjengukmu.”

“Hanya kakiku yang patah hyung, tidak usah terlalu khawatir. Tak apa hyung aku mengerti kau sibuk.”

“Appa dan eomma masih di Jerman, mungkin lusa baru selesai dengan urusan mereka disana,” jelas Hyunwoo.

“Iya hyung, aku mengerti,” Sehun tersenyum pahit.

“Kapan kau kembali ke rumahmu? Kau pasti bosan dengan kamar rumah sakit ini,” tanya Hyunwoo.

Sehun menghela nafas. “Kau benar hyung, aku sangat merindukan rumah dan kamarku. Mungkin beberapa hari lagi aku akan meminta dirawat dirumah saja.”

“Apa ada sesuatu yang lain yang kau rindukan dirumahmu?”

“Hah? Tentu saja tidak ada!”

“Ingat, kakimu masih sakit, tidak usah berbuat macam-macam.”

“Ish, kenapa sih semua orang mengingatkanku akan hal itu sih! Aku sudah dewasa, aku tahu hyung!” gerutu Sehun.

“Dewasa apanya, kau itu masih bayi,” canda Hyunwoo, diikuti tawa Hyunshik dan HyeKyung.

“Ish, hyung!”

========================================================================= Ruang tidur ala Suit Room itu masih lenggang, Baik Yixing maupun Chaeri berusaha membuka obrolan, tapi mulut mereka seperti di Lem, susah untuk mengeluarkan kata, meskipun beribu tanya menyesaki otak mereka masing-masing. sungguh di kungkung dalam satu ruangan dengan orang asing bukan gaya keduanya, meskipun seharusnya mereka tidak merasa asing, hey, seminggu lagi mereka menikah loh, bahkan kini mereka tidur di ranjang yang sama, tapi rasa asing itu semakin menyergap mereka.

Mereka sepertinya lebih memilih untuk kembali ke masa-masa dimana mereka saling adu mulut atau melempar sindiran. Setidaknya tidak ada rasa canggung yang berlebihan seperti ini. Menjadi ‘musuh’ hampir selama satu dekade, seharusnya membuat mereka sedikit akrab, meskipun dalam konteks yang berbeda.

“Xing”

Akhirnya Chaeri yang memilih membuka suara, yang dipanggil segera menimpali singkat.

“ne..”

“maafkan Heechul Eonni, kau terpaksa menikahiku, seminggu lagi”

“aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku sudah membuatmu hamil, tanpa diminta pun aku akan bertanggung jawab, sekeras apapun kau menolakku, aku akan tetap memaksamu ke altar gereja, karena tujuanku membuatmu hamil agar kau bersedia menikah denganku”

“kenapa begitu? Kau terlihat sangat terobsesi padaku, kupikir kita musuh?”

Yixing merubah posisi tidurnya menjadi menyamping, diraihnya tubuh munggil Chaeri lalu di dekapnya, Chaeri tidak menolak, pun ketika Yixing memposisikan kepalanya tepat di dada bidang lelaki itu.

“kau dengar detak jantungku, Im Chaeri”

Chaeri menganguk dalam dekapan Yixing, Ya Tuhan, aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki ini membuat Chaeri rileks, aroma segar sehabis mandi (ini Chaeri yang meminta, sebelum mereka tidur siang) bercampur dengan parfum musk yang menenangkan membuatnya enggan lepas dari lengan hangat Yixing. Duh, sudah berapa malam Chaeri membayangkan adegan ini selama masa ngidamnya? Merasakan deru nafas Yixing yang seirama dengan pompaan jantungnya, rasanya damai sekali.

“jantung ini berdetak semakin liar ketika kau berada dalam radius yang dekat denganku, ada rasa marah yang berlebih ketika kau dekat dengan lelaki lain, apalagi ketika aku tahu kau memuja Jung Yunho, aku bahkan ikut tersakiti saat kau ditolak secara halus oleh Yunho, tapi aku terlalu pengecut, alih-alih menyatakan cinta dan menyembuhkan lukamu, aku malah membiarkanmu terjebak dalam kesemuan bersama Cho Kyuhyun”

Yixing segera menarik dagu Chaeri, mesejajarkan pandang dengan mata sang gadis.

“dengarkan aku Im Chaeri, aku mencintaimu”

Ucap Yixing diikuti dengan kecupan manis pada rekahan bibir merah Chaeri, entah siapa yang memulai, ciuman mereka semakin meliar dan basah, Chaeri mengerang frustasi ketika Yixing melesakkan lidahnya ahli, sementara tangan Yixing sudah bergerak menyibak gaun tidur Chaeri, Chaeri mengangkat tangannya untuk memudahkan Yixing melolos satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya. Sudah kebiasaan Chaeri tidur tanpa mengenakan pakaian dalam, sungguh ia tidak bermaksud menggoda Yixing seperti ini.

Yixing sejenak terpesona dengan apa yang tersaji di hadapannya. dua bukit kembar Chaeri kini menantang minta dia kerjai, entahlah, mungkin karena hamil, payudara Chaeri semakin terlhat berisi, penuh dan ranum.

“kenapa melihatnya seperti itu?”

“ukurannya membesar, lebih besar dari terakhir kali aku melihatnya”

Jawab Yixing polos, Chaeri terkikik geli, senang melihat Yixing menatapnya kagum, apalagi mata Yixing berbinar cerah, ih! Dasar lelaki, si maniak puting susu perempuan.

“kita lanjutkan tidak?”

bisik Chaeri seduktif tepat di tengkuk Yixing, Yixing meremang, lalu secepat kilat ia segera menjatuhkan kecupannya di leher Chaeri, membuat tanda ruam kemerahan, yang menyatakan Chaeri adalah miliknya, hanya miliknya seorang. Tangannya yang bebas meraih satu dari payudara Chaeri, Chaeri terus mengeram dalam kelimpungan hasrat.

Yixing benar-benar memperlakukan Chaeri dengan lembut.

Setiap gerakan yang lelaki China itu ciptakan, sangat halus, penuh kasih sayang. kecupan demi kecupan yang Yixing berikan pada setiap inchi kulit Chaeri, diberikan penuh kelembutan. Chaeri bahkan tidak berhenti mendesah nikmat, saat kedua payudaranya di sesap Yixing bergantian. Hanya dengan sentuhan dan kecupan Yixing saja, Chaeri sudah orgasme sekali. Jujur saja Chaeri sangat menikmati permainan Yixing, ia benar-benar merindukan sentuhan Yixing semenjak terakhir kali mereka bercinta.

“Xing-aaah”

Merasa dipanggil, Yixing segera mengalihkan sesapannya pada perut Chaeri, mengurungkan niatnya mengoyak vagina Chaeri dengan jemarinya. netra lelaki China itu langsung menyorotkan sinar kekhawatiran, bagaimanapun juga Chaeri sedang mengandung, dan dengan bejatnya Yixing tidak bisa menahan hasratnya untuk menyentuh Chaeri.

“ada yang sakit? Aku meyakitimu ya? Kita hentikan saja atau bagaimana? Apa anak kita menendang?”

Chaeri terbahak, demi Tuhan, kehamilannya baru berusia delapan minggu, dan Yixing mengatakan anak mereka menendang? Berbentuk bayi saja belum.

“Ya.. kenapa malah tertawa? Aku khawatir tahu, menyentuhmu di saat kau hamil mungkin bisa menyakitimu”

protes Yixing, Chaeri mengelang, tiba-tiba saja ada ribuan kupu-kupu terbang dari dasar perutnya, ketika melihat Yixing berhenti, hanya untuk memastikan Chaeri merasa nyaman. Padahal jelas sekali Yixing sedang panas dan siap bertempur, wajah lelaki itu memerah penuh kabut nafsu. Chaeri benar-benar merasa menjadi seseorang perempuan yang dihormati pasangan bercintanya.

Chaeri kembali memandang lelaki yang kini berada di atasnya, Yixing tampak terlihat kacau sekaligus panas dengan piyama tidur yang sudah terbuka, memperlihatkan dada putih lelaki itu juga abs yang masih belum terbentuk sempura di perutnya. Iseng, jemari Chaeri mulai menyentuh erotis dada Yixing hingga tonjolan di perut sang lelaki, Yixing memejam nikmat! Sungguh sentuhan Chaeri sangat berpengaruh padanya, daerah selatan Yixing yang sekarang tegang, semakin menegang, mengacung minta di bebaskan dari sangkarnya.

“tidak Xing, aku kesal saja padamu, kau masih memakai piyama dan celanamu, tapi aku sudah kau telanjangi hingga orgasme! Iih! Tidak adil!”

Giliran Chaeri yang protes, seraya mencebikkan bibirnya, Oh Ya Tuhan! imut sekali! Langsung saja Yixing kecup singkat bibir wanitanya.

“kau yang harus membukanya untukku, BaoBei

Chaeri sontak memerah wajahnya, dia tahu betul arti kata BaoBei, jika di terjemahkan berarti yang tersayang atau yang tercinta, duh ternyata si annoying Yixing sangat lembut jika berada di atas ranjang.

“katanya mau membuka bajuku? Kenapa malah diam?”

Chaeri mempoutkan bibirnya lagi, tentu saja yixing langsung menciumnya. Chaeri malu-malu menggerakkan tangannya ke arah celana piyama Yixing, menariknya pelan hingga sebatas paha Yixing, tanpa sengaja tangan Chaeri menyentuh bagian selatan Yixing, membuat Yixing mengerang pelan.

“maaf Xing, sakit ya?”

Yixing mengelang, ia tersenyum. Menarik tangan Chaeri, kemudian mengecupnya sayang.

“aku sudah tidak tahan, bolehkan aku masuk? Kurasa kau sudah cukup siap”

Chaeri tersenyum memberi ijin pada Yixing untuk melakukan penetrasi, di bukanya lebar kedua pahanya, mempersilahkan Yixing mauk, perlahan Yixing memposisikan dirinya diantara kedua kaki Chaeri, mempersiapkan kejantannya sendiri. Chaeri sedikit meringis ketika kepala penis Yixing menerobos masuk kedalamnya. Dengan gerakan yang teramat lembut, Yixing terus masuk perlahan, Baru setengah milik Yixing tertanam, Chaeri sudah merasa penuh, ia tak berhenti menyebut nama Yixing. Sensasinya benar-benar berbeda dari pertama kali mereka melakukannya, mungkin saat itu mereka terpengaruh oleh obat perangsang dan alkohol, sehingga hanya kepuasan yang mereka dapat bukan afeksi nyaman seperti saat ini.

Baobei, aku sudah masuk utuh, kau sudah nyaman? Boleh aku bergerak?”

Chaeri menganguk, Ya Tuhan! Yixing benar-benar lembut, ia bahkan menanyakan apakah Chaeri sudah nyaman dengan keberadaan dirinya di dalam Chaeri. Perasaan hangat menjalari seluruh syaraf Chaeri, jadi beginikah rasanya dicintai? Dipuja? Dan dihargai?

Gerakan naik turun Yixing dan Chaeri yang teratur dengan ritme yang saling sinkron membuat Yixing merasa meraih surganya, kini Chaeri pasrah dalam kungkungan Yixing, Chaeri merindukan Yixing, sangat!, sementara Yixing memang benar-benar menginginkan moment ini. Mereka terus mendaki mencari kenikmatan yang hakiki, pun ketika mereka meledak dalam fantasi kesemuan yang nyata, Chaeri tak henti memanggil nama Yixing. Entah kenapa, Chaeri sekarang yakin untuk melangkah bersama Yixing di hari esoknya kelak.

“aku mencintaimu, Im Chaeri, terima kasih”

Hanya itu kalimat yang sempat Chaeri dengar, sebelum matanya memberat, lalu terlelap dengan perasaan penuh kehangatan.

=========================================================================

Mel tengah menonton televisi bersama Lin—yang sementara tinggal bersamanya karena Jongin bersikukuh ingin menemani Sehun hingga sahabat separuh jiwanya itu sembuh—ketika Jongin memanggil-manggil namanya dari luar rumah.

“Nuna! Nuna!”

“Ish—Kim Jongin! Kenapa pakai teriak-teriak segala sih!” omel Mel sebal, karena Jongin mengganggu acara menonton televisinya.

“Nih!” Jongin melempar sebuah amplop besar kepada Mel. Kemudian adik Mel satu-satunya itu malah langsung menarik tubuh sang kekasih, Lin. Dan mencium gadis yang tengah kebingungan itu dengan ganas.

“Jonginhh—“ Lin berusaha memberontak di sela-sela ciuman ganas Jongin. Gadis itu mendorong Jongin dengan sekuat tenaganya tapi nihil. Akhirnya Lin pasrah, ketika Jongin menggendongnya dengan paksa ke dalam sebuah kamar.

Mel hanya melongo melihat kelakuan adiknya. Sebenarnya ada apa sih?

Tetapi Mel tidak berminat untuk ikut campur lebih jauh urusan adiknya. Toh, mereka juga sudah dewasa. Ialebih memilih fokus melihat amplop yang diserahkan Jongin padanya. Kenapa di amplop itu tertulis namanya?

Mel membuka amplop berwarna coklat itu. Seketika badan Mel melemas, ia langsung menjatuhkan isi amplop itu ketika tahu apa yang ada di dalamnya. Bagaimana tidak? Semua isi dari amplop itu adalah foto Minho bersama seorang gadis berkulit putih dan berambut pirang, sepertinya bukan orang Korea.

“Minho? Bagaimana bisa?” gumam Mel pelan. Dipungutnya lagi amplop itu beseta isinya yang berserakan. Di balik foto tertera tanggal diambilnya foto. “Ini kan seminggu sebelum aku dan Minho putus dulu, jadi dia juga berselingkuh di Jepang?”

Ketika Mel tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, terdengar suara deru mobil berhenti tepat didepan rumahnya. Mel melongok dari jendela, sepertinya mobilitu tampak asing, ia belum pernah melihat mobil itu. Siapa yang datang?

“Kan sudah kubilang rumahku yang sebelah hyung, kau salah parkir!” gerutu seseorang dari dalam mobil.

Mel keluar menghampiri mobil asing itu. Dan tampaklah sosok tak asing yang menjadi salah satu penumpang mobil berwarna putih bersih itu—Oh Sehun.

“Maaf, hyungku salah parkir,” kata Sehun cuek ketika Mel mendekati mobilnya.

“Mel nuna!” seru suara bocah dari dalam mobil. Kemudian sang bocah turun dan menghampiri mel.

“Hei, Hyunshik?”

“Ah—Melita-ssi kita bertemu lagi,” sapa Hyunwoo—kakak Sehun.

Sehun terheran-heran melihat interaksi Mel dan keluarganya. Mel pun bingung melihat Sehun bersama keluarga kecil yang ia temui beberapa hari yang lalu.

“Jadi kau tetangga Sehun?” HyeKyung ikut menimpali.

“Iya,” jawab Mel sambil sedikit melirik Sehun yang tak mau menatapnya.

“Oooh—Sehun uncle dan Mel nuna pacaran ya?” tanya Hyunshik asal.

“TIDAK!” jawab Sehun dan Mel serempak, membuat keluarga kecil Oh terkekeh melihat kekompakan mereka.

“Hei, apa itu ditanganmu?” tanya Sehun saat melihat amplop yang dirasanya familiar tengah dipegang oleh Mel. “Itu milikku! Kemarikan!” kemudian namja itu merebutnya begitu saja.

“Heeyyy!” protes Mel, tapi Sehun tidak menggubrisnya. Dengan langkah tertatih karena harus menggunakan tongkat, Sehun berjalan menuju rumahnya. Kemudian namja itu memencet bel rumah dengan tidak sabaran. Beberapa saat kemudian muncul Yixing membukakan pintu dengan keadaan mengenaskan, rambut berantakan dan hanya menggunakan celana pendek.

“Oh—jadi itu sebabnya Jongin menyerang Lin tiba-tiba tadi?” gumam Mel pelan sambil mengedikkan bahunya.

“Uhm—Mel-ssi, kami permisi dulu,” pamit Hyunwoo, sepertinya ia hendak mengemasi barang-barang Sehun yang berada di dalam mobilnya.

“Ah ne, Hyunwoo-ssi.”

“Mel nuna, kapan-kapan Hyunshik main boleh ya?”

“Aigoo—tentu saja boleh,” jawab Mel sambil mencubit gemas pipi Hyunshik. Bocah itu benar-benar mirip Sehun. Yah—mirip ayahnya juga sih, karena Sehun dan Hyunwoo bagaikan pinang dibelah dua.

Sepeninggal keluarga Oh yang beranjak menuju rumah Sehun, Mel kembali teringat amplop yang diberikan Jongin padanya.

Jadi itu milik Sehun?

Jadi Sehun memata-matai Minho?

Untuknya?

=====================================TBC================================

Iklan

34 pemikiran pada “[6TH] THE NEIGHBOUR

  1. Akhirnya yang diidam idamkan chaerisa terkabul juga haha
    Yixing nya lembut yaa haha
    Hyunsik ponakannya sehun, jodoh nih
    Sehun matamatain minho?
    Wow, masih cinta/? sama mel tapi ciuman panas sama irene. Gimananya-_-
    Overall serruu
    Hot juga haha
    Next ditunggu

  2. Tambah ga sabar ngeliat kelanjutannya. Mel eonni ama imcae eonni semangt ya bikin ffnya. Mungkin ditambahin kai ama lin ga papa kan buat sequel…Qqqqq

  3. Ya ampunn.. hyunsiknya lucu banget..gemes deh bacanyà.. berasa pengen nyubit pipinya..haha
    ceritanya makin keren , aku suka.
    akhirnya scene yixing sma chaeri co cweet..
    Yixing sma chaeri mau nikah.. trus hunmel nya kapan??
    Scene keluarga mel sma jongin ya…aku penasaran deh sma kelakuan keluarga mereka..
    Tetep semangat ya nulis nya..

  4. jiaahh… akhir ny icing ma imcha ketemu jg.. cieee.. yg mau nikah… gue pikir appa ny imcha bakalan nikahin dy ama si kyu upil/? weh, part ny hunmel banyakin donkkk… jan marahan terus napa???!!! part enaena ny icing beuhh.. manteebbb XD , iya sih gue ngerti, hunmel lgi kena konflik, jdi wajar ga ad part enaena.. ini di tunggu nunn.. part hunmel baikan trus sehun nyerang/? mel lgii.. XD jan dibikin lama baikan ny.. udh gregetz inii.. XD

  5. Mau dong dibanyakin adegan pertemanan kai ama sehun, buas gw dua2 maunya liat barengan muluu malah kalo perlu double date bed.
    Xingnya buatin lbh manly biar fantasinya greget pas lg diatas ranjang

  6. Padahal di awal chap udah mbatin, kasian ya si minho, segitu cinta butanya. Eh ternyata -________- mungkin ini yg membuat mel gak merasa bersalah harus meninggalkan minho. Hahahaha
    Mau kali ya si yixing jadi gentle gak gemulai gitu. Hahaha

  7. Ini di post harus malem jumat eon? Mmmm gpp deh hahaha duh… itu imcha sama yixing begituan? Imcha nya kan lagi hamil, bukanny gk boleh yah?

  8. Karena gue sayang nuna jd gue tinggalin komen disini demi kelanjutan ff yg bikin penasaran ini. gue baru2 ini ngefollow akunnya mamajang hihi salam kenal yak mamajaaaang

  9. Waahhhh makin lama makin kereenn eonni. Penasaran sama pernikahannya babajang dan imcha eonni. Mel eonni jadian dong sama thehun.

  10. Ayyo, udh dipublish, suka banget kak. Aigo keburu pengen malem jumat depan. Seneng banget pas yg mau di nikahib sana chaeri itu yixing. Kan hubungan mereka nembaik, yang masih ngejanjel tu hubungannya kak mel sama sehun. Ih jadi gemes sendiri, yang jelas bagus banget kak, bisa gak maljumnya di percepat gitu? Udh pengen baca lanjutannya 😂😂😂

  11. Bahahahahg….
    Gue baca ini lama bet masa….
    sejaman lebih… kampret… panjang banget dah… puas gue… PANJANG!! 😂😂😂 elah.. maljum… duet noona noona kethayangan ini emang TeOPe dah~~~
    Ampe lupa gue mau ngomen apaan… review yg gue inget ajadeh yak… hing…
    Gue sempet shock pas bapaknya Imcha nelpon… gue mikirnya bahh.. bakal di strap dah ni anak ama bapaknya…
    Ealah… ternyata… malah sebaliknya. Dapet bonus pula!! Bonus enaena ama Iching… sumpah. Nikmat/? yeth… 😂
    Gue curiga… keknya yg ember mulutnye bilang ke bapaknya Imcha kalo si Imcha lagi hamil nih si Hee Eonnie yeth?? Wuakakakk… emang noh emak emak. Dasar.
    Ini kelakuannya Hyungsyk(bener kaga sih nulisnya gini?) sama banget yak ama samchoon nya sama2 nyebelinnya! Bahahahag!bener banget! Sehun itu masih Bayi!!! Dasar BOCAH!!!!!
    Duh…. HunMel shipper musti puasa dulu yeth? Kan ceritanya lagi marahan… tapi flashback nya mayan mengobati lah 😂😂 hahaha! Basah dah tu Mel gara2 nginget ena ena ama Oseh 😂 didepan anak kecil lagi.. bahahahg kampret.
    Buaaahhh~~~
    Adegan Jongin x Lin masih di private ya??wkwkwkwk
    Ditunggu deh ena ena nya Jongin x Lin…
    Pengen baca gimana si Jongin berubah jadi Kai kalo udh di ranjang/? 😂😂😂

    • Wkwkwk ngakak aku liat komenmu hahaha bener beuts jangan2 yg ngasih tau imcha hamil itu si pacul lagi. Mksdnya heecul kagak bisa jaga rahasia ni orang

  12. Ya ampun, edisi maljum…,,
    Yixing sekseh sekali…..
    Oh sehun, jangan pura” cuek deh padahal sayang banget sama mel.
    Gak sabar nunggu selanjutnya….

  13. huahahahhahhaahaaaaa…..jongin ngaco maen serang aja….kesian lin eh tp lin pasti menerima dg senang hati ya??kekeke
    udah buruan baikan dan buat baby oh….nyusul baby zhang dan lanjut ke baby kim…hahhahaaa

  14. Finaleeehhh setelah sekian lama wkwk.
    A6 kalo udh akrab sm keluarga sehun biasanya ada signal buat hunmel balik lagi ㅋㅋㅋㅋ
    Lanjuuuuuuttttt!!💓💓💓

  15. Akhirrrnyaaaaa.. Setelah menunggu berabad -abad -_-
    Ffnyaa dilanjutiiinnn.
    Semangat baut nulis ffnya eonnn..
    Cuma mau bilang partnya hunmel banyakin kekeke😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s